Angkasa Pura 2

Kapt.Inf.Sulam:

Banyak Kelemahan Siswa dari Luar Tidak Terdeteksi Sebelumnya

SDMKamis, 30 Oktober 2014
Kapt.Sulam

BANDUNG (beritatrans.com) – Mendidik dan melatih siswa organik TNI berbeda dengan siswa dari lembaga umum. Kasus yang paling banyak terjadi, siswa dari luar banyak mengeluh terutama fisik kesehatan mereka. Kasus itu belum terdeteksi dalam pemeriksaan kesehatan sebelumnya.

Pusdikif TNI AD memperlakukan siswa yang masuk  sama dan harus menjalani pendidikan sama pula. “Materi diklat itu sama untuk seluruh siswa. Faktanya, siswa dari luar institusi TNI berbeda. Fisik dan kesehatan mereka yang banyak kekurangan,” ujar  Pasiopspam Pusdikif TNI AD, Bandung, Kapten Inf.Sulam menjawab beritatrans.com di Bandung, kemarin.

“Secara fisik bagus, kondisi prima. Tapi, kita banyak menemui kasus-kasus ada penyakit tertentu yang belum terdeteksi dalam pemeriksaan sebelumnya. Bahkan ada siswa yang mendetia sakit asma, TBC atau pernah kecelakaan parah seperti patah tulang dana lainnya. Ini yang perlu diperbaiki dan mampu mendeteksi semua kelemahan tersebut, sehingga semua siswa yang masuk pusdik benar-benar prima,” jelas Sulam.

Selama diklat  siswa harus menjalani proses pendidikan dan latihand engan materi cukup berat. Siswa harus prima fisik dan mentalnya, sehingga mampu menjani diklat sampai tuntas. “Jika ada kesehatan siswa yang tidak optimal, proses pendidikan  kurang maksimal,” terang Pama TNI AD pernah bertugas di medan perang Timor Timur, Papua serta Aceh saat diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) itu.

“Banyak pengalaman mendidik dan melatih taruna perhubungan. Berbagai pengalaman unik terjadi selama melatih mereka, yang umumnya masa pembentukan dasar kharakter mereka,” kata Pasiopspam, Diklar Bintar Perhubungan itu.

Bintar Diklat Bdg

Satu kelemahan yang sering dialami taruna dari luar, termasuk BPSDM adalah kesehatan siswa. Di tengah proses pendidikan, mereka tidak kuat karena menderita sakit kronis, seperti TBC, gangguan ginjal, bahkan jantung dan lainnya. Atau pernah mengalami kecelakaan seperti patah tulang dan lainya yang tidak terdeteksi sejak dini.

“Kita sering menemui kasus-kasus begitu. Mereka umumya siswa dari luar TNI. Karenanyam perlakukan pada mereka juga berbeda, bukan seperti siswa organik TNI,” kata Sulam  yang mantan Tim Pembebasan Sandera Mapenduma, Papua itu.

Pada intinya, ada tiga tahapan pendidikan di Pusdkif ini. Peratama masa pengosongan, kedua doktrinasi atau pengisian otak dan fikiran mereka dengan nilai-nilai dan sikap disiplin, tertiba dan kesatria. Ketiga, pemantapan. “Masa pendidikan mereka rata-rata sebulan, minimal 10 hari. Bisa di Pusdikif Cipapat atau Pusdikif di Jalan Riau Bandung,” terang mantan anggota Yonif Linud Kujang itu.

Pusdikif mempunyai sitem dan standard pendidikan yang jelas, baik untuk anggota TNI atau siswa dari luar. Banyak sekali siswadari luar yanag mengikuti pendidikan dasar dan lanjutan di Pusdikif. “Mereka sudah tahu, bagaimana proses dan hasil pendidikan  di Pusdikif Bandung.  Hampir sepanjang tahun Pusdikif tak pernah sepi dari siswa, baik TNI, taruna dari luar termasuk karyawan pemerintah dan BUMN,” tegas Sulam.(helmi)