Angkasa Pura 2

Triwulan III Tahun 2014

Dengan Rugi Rp2,63 Triliun, Garuda Menjadi BUMN Paling Rugi

KokpitSabtu, 22 November 2014
20111020_JV_Pesawat-Baru-Garuda-123-rd-05A

JAKARTA (beritatrans.com) – Hingga triwulan III tahun 2014, maskapai Garuda Indonesia  membukukan rugi bersih (rugi yang diatribusikan kepada entitas induk) sebesar 219,5 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,63 triliun.

Menteri BUMN Rini S Soekarno, Jumat (21/11/2014), mengemukakan kerugian Garuda sebesar itu naik 1.362 persen dibanding rugi bersih periode sama tahun 2013 sebesar Rp180 miliar.

Kerugian antara lain karena selisih kurs itu, dia menjelaskan menempatkan PT Garuda Indonesia sebagai BUMN dengan nilai kerugian terbesar.

Laporan Keuangan Garuda Indonesia menyebutkan hingga triwulan III tahun 2014, pendapatan usaha perseroan tercatat naik menjadi 2,81 miliar dolar AS dari sebelumnya hanya 2,68 miliar dolar AS.

Kendati pendapatan usaha naik, beberapa pos beban perseroan, seperti beban usaha, dan beban keuangan sepanjang periode tersebut terus mengalami peningkatan.

SAHAM
Belum bagusnya performansi keuangan Garuda, menyebabkan harga saham perusahaan tersebut belum cemerlang. Contohnya pada perdagangan Kamis (13/11/2014), saham maskapai pelat merah tersebut ditutup melemah 24 poin atau 4,81 persen ke level Rp 475 per saham.
Seorang analis mengatakan, kinerja keuangan kinerja keuangan memburuk, membuat saham perusahaan plat merah penerbangan tersebut terus menurun.

“Karena selama ini Garuda terus mencatatkan kerugian apalagi terdampak oleh selisih kurs yang berkepanjangan sehingga menekan pertumbuhan perusahaan tersebut,” kata Analis PT Asjaya Indosirya Securities, Williams Surya Wijaya.

Pada debut perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Febuari 2011, saham GIAA dibuka turun 6,66 persen jadi Rp 700 per saham dari harga perdana yang ditetapkan di level Rp 750 per saham. Saat pembukaan pasar, saham GIAA ditransaksikan pada harga terendah Rp 600 dan harga tertinggi diposisi Rp 700. (tifa).