Angkasa Pura 2

Tommy: Indonesia Butuh 770 Pilot Baru Setiap Tahun

SDMJumat, 28 November 2014
Pilot Loka1

JAKARTA (beritatrans.com) – Kebutuhan pilot dan teknisi pesawat terbang di Tanah Air akan terus meningkat. Industri penerbangan nasional tumbuh sangat dinamis. Hampir setiap maskapai penerbangan nasional mendatangkan pesawat baru setiap tahunnya.

Dalam lima tahun ke depan, setiap tahun sedikitnya ada 77 pesawat baru dari berbgaai jenis dan ukuran masuk ke Indonesia. Pesawat tersebut praktis butuh pilot dan teknisi baru dengan ratting dan spesifikasi yang berbeda-beda.

“Masuknya pesawat baru tersebut, praktis butuh SDM profesional untuk mengoperasikannya, terutama pilot. Jika satu pesawat minimal butuh dua set crew atau 10 orang, maka ada kebutuhan SDM untuk pesawat terbang itu sekitar 770 orang,” ujar Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo pada beritatrans.com di Jakarta, Jumat (28/11/2014).

Seperti diketahui, BPSDM Perhubungan baru saja melantik 12 siswa penerbang lulusan Loka LP3 Banyuwangi Jawa Timur. Sekolah pilot tersebut merupakan pengembangan dari ATKP Surabaya. Atau menjadi sekolah pilot kedua milik BPSDM Perhubungan setelah STPI Curug, Tangerang, Banten.

Sementara, kemampuan pemerintah Indonesia untuk mendidik dan menyiapkan pilot baru hanya sekitar 400 orang. Jumlah itu dari sekolah pilot pemerintah dan swasta. “Jadi, kita masih kekurangan tenaga pilot dalam jumlah besar. Jika tidak segera diantisipasi maka kesenjangan itu akan semakin lebar,” kata Tommy lagi.

Pilot Loka2

Dikatakan seain STPI, Loka LP3 Banyuwangi ada beberapa sekolah pilot di Tanah Air. Mereka itu antara lain BIFA (Bali International Flying Academy), Global School of Pilot dan lainnya. Selain itu beberapa maskapai nasional seperti Sriwijaya Air juga memiliki sekolah pilot sendiri.

Kendati begitu menurut Tommy, Indonesia harus terus meningkatkan kualitas dan kapasitas sekolah pilot yang ada. “Kebutuhan tenaga pilot makin tinggi. Tapi harus tetap dibarengi dengan peningkatkan kualitas SDM yang ada. Pendididkan pilot di tambah, tapi kualitas juga bagus dan berorienasi pada keselamatan,” tandas Tommy.

“Indonesia harus berpacu dengan waktu untuk mendidik dan mempersiapkan tenaga pilot yang andal. Tapi, oreintasi sekolah-sekolah itu harus jelas dan tegas yaitu keelamatan menjadi fokus utama. Tak ada artinya pilot makin banyak tapi kualifikasi rendah dan keselamatannya juga rendah,” tegas Tommy.(helmi)