Angkasa Pura 2

November Inflasi, Sektor Transportasi Sumbang Terbesar

KoridorSenin, 1 Desember 2014
Inflasi

JAKARTA (beritatrans.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi November 2014 sebsar 1,50% atau naik dibanding November tahun sebelumnya yang selalu deflasi selama tiga bulan terakhir.

Kontribusi sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada laju inflasi mencapai 4,29 % yang dipicu oleh kenaikan harga BBM subsidi mulai 18 November 2014 silam.

“Bulan November terjadi inflasi 1,50% secara bulanan (month-on-month). Sedang inflasi secara tahunan (year-on-year) adalah 6,23%. Kemudian inflasi sepanjang Januari-November 2014 (year to date) tercatat 5,75%,” ujat Suryamin, Kepala BPS, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Dia menyebutkan, inflasi November sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Dampak ikutannta, tarif angkutan naik dan harga barang dan jasa juga naik.

Mulai 18 November, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000/liter. Harga bensin Premium kini menjadi Rp 8.500/liter sementara Solar bersubsidi menjadi Rp 7.500/liter.

Kenaikan harga BBM, lanjut Suryamin, memang hanya mempengaruhi 12 hari pada November. “Tapi baru 12 hari saja sudah ada pengaruhnya,” ujar dia.

Seluruh kota mengalami inflasi, tidak ada yang deflasi. Inflasi tertinggi mencapai 3,44% yang terjadi di Padang, sementara terendah 0,07% di Manokwari.

“Jika harga BBM baik, tarif transportasi naik. Demikian juga harga barang dan jasa lainnya ikut terdongkrak naik pula,” papar Suryamin.

Beruntung, terang dia, kenaikan BBM subsidi itu dilakukan pertengahan bulan. Jadi, dampak kenaikan BBM pada transportasi dan laju inflasi pada umum tidak terlalu signifikan.(helmi)