Angkasa Pura 2

Nelayan Pati Mengaku Kesulitan Mendapatkan Solar

Kelautan & PerikananSelasa, 2 Desember 2014
BBM Nelayan

PATI (beritatrans.com) – Nelayan di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, hingga kini masih mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar meskipun harga jualnya telah mengalami kenaikan dari Rp5.500 per liter menjadi Rp7.500/liter.

“Harapan nelayan ketika pemerintah menaikkan harga jual BBM, ketersediaan solar untuk nelayan akan cukup. Kenyataannya hingga kini belum memenuhi kebutuhan nelayan,” kata Koordinator Front Nelayan Bersatu wilayah Pati Bambang Wicaksono di Pati, Senin (1/12/2014).

Ia mengakui, pasokan solar untuk nelayan lewat stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan memang tersedia, namun jumlahnya belum sebanding dengan kebutuhan para nelayan.

Akibatnya, lanjut dia, masih ada puluhan kapal yang tidak bisa melaut karena kebutuhan solarnya belum terpenuhi sesuai keperluan melaut selama beberapa pekan.

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM terbaru, kata dia, dijelaskan soal kenaikan harga BBM dan kebutuhan nelayan, khususnya untuk kapal yang memiliki berat kurang dari 30 gross ton (GT) atau lebih dari 30 GT tetap diperbolehkan menggunakan solar bersubsidi.

Hanya saja, lanjut dia, untuk setiap kapal dibatasi sebanyak 25 kiloliter (KL) per bulan.

Hal itu, kata dia, belum berjalan dengan lancar seperti halnya di Jakarta dengan alasan di wilayah Pati belum ada kejelasan soal kebutuhannya.

“Kami menganggap BPH Migas yang mengatur soal distribusinya memang masih ada perbedaan cara pandang soal hal itu,” ujarnya seperi dirilis Antara.

Padahal, lanjut dia, di kabupaten tetangga, seperti Kabupaten Rembang tidak ada permasalahan seperti yang dihadapi nelayan di Kecamatan Juwana.

Hal itu, kata dia, sangat merugikan nelayan karena permasalahan soal solar terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

“Banyak nelayan yang memiliki tanggungan hutang di lembaga perbankan, serta yang utama adalah soal kebutuhan hidup keluarganya untuk setiap harinya,” ujarnya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Juwana Rasmijan membenarkan, bahwa beberapa nelayan memang masih sulit mendapatkan solar untuk melaut, terutama untuk kapal yang beratnya di atas 30 GT dengan kebutuhan solar hingga puluhan drum.

“Harapannya Pemerintah Pusat segera merespons permasalahan tersebut, mengingat harga jual saat ini sudah dinaikkan yang seharusnya permasalahan soal stok tidak perlu terjadi lagi,” ujarnya. (aliy)