Angkasa Pura 2

Perpindahan Logistik Truk ke KA Terbentur Tarif

EmplasemenSelasa, 2 Desember 2014
KA Logistik 1

JAKARTA (beritratrans.com) – Perpindahan angkutan logistik dari truk ke kereta api logistik (Kalog) terhambat akibat kenaikan tarif Kalog sebesar 15 persen mulai 1 Desember 2014, kata Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita.

“Dampak paling signifikan adalah mundurnya rencana dari perusahaan logistik untuk memindahkan angkutan barang dari truk ke kereta api,” kata Zaldy di Jakarta, Senin (1/12/2014).

Zaldy mengatakan mundurnya perpindahan tersebut karena kanaikan tarif kereta api barang atau logistik membuat angkutan kereta api lebih mahal daripada truk.

Padahal, dia mengatakan jika diurutkan KA merupakan angkutan barang kedua paling murah setelah angkutan laut, kemudian disusul truk dan kargo udara atau pesawat.

Menurut dia, kemungkinan perpindahan ke moda laut dinilai lebih sulit karena untuk di Pulau Jawa, angkutan laut lebih mahal daripada truk dan kereta api.

“Perpindahan ke moda laut lebih susah lagi karena lebih mahal di Pulau Jawa,” katanya.

Terkait usulan pemberian insentif untuk suku cadang Kalog yang memicu kenaikan tarif karena menyumbang porsi paling banyak dalam biaya operasional, Zaldy menilai tidak diperlukan jika KA memaksimalkan produk lokal PT Inka.

“Seharusnya, suku cadang tidak menjadi masalah kalau PT Inka dilibatkan untuk transfer teknologi dari pihak pabrik, sehingga suku cadang bisa dibuat lokal,” katanya seperti dikutip Antara.

Begitu pula untuk truk, dia berpendapat, tidak diperlukan insentif jika truk barang tidak memakai lagi BBM bersubsidi.

“Tidak perlu menurut saya kalau truk barang tidak memakai lagi BBM subsidi dan tidak bileh ‘overload’ (kelebihan), maka lewat laut akan lebih murah,” katanya.

Zaldy juga menyarankan agar rangkaian kereta api barang saat ini masih pendek dan seharusnya bisa diperpanjang agar bisa lebih banyak kontainer yang bisa ditarik.

“Tapi, sebagian besar stasiun KA barang tidak siap untuk menamping rangkaian gerbong yang panjang,” katanya.

Menurut dia, jika Kalog bisa menarik lebih banyak kontainer, maka biaya operasionalnya juga akan berkurang.

Sebagai imbas kenaikan BBM bersubsidi yang berdampak pada tarif angkutan yang baru, biaya logistik naik sebesar 15 persen.

PT Kereta Api Logistik (Kalog) menaikkan tarif 15 persen mulai 1 Desember 2014 karena membengkaknya biaya operasional seiring penaikan harga BBM Bersubsidi.

Hal itu disampaikan Direktur Operasi dan Pemasaran Kalog Subakir yang mengatakan penaikan BBM paling berpengaruh pada komponen suku cadang alat angkut dan alat berat sebesar 30 persen dibanding komponen biaya operasional lain, seperti BBM hanya sebesar 17 persen. (aliy)