Angkasa Pura 2

Open Sky Policy

Edie Haryoto: Makin Banyak Pesawat Datang Untung

BandaraSelasa, 9 Desember 2014
eddie haryoto

JAKARTA (beritatrans.com) -Kebijakan era pasar bebas penerbangan atau open sky policy tak bermasalah bagi pengelola jasa bandara di Tanah Air. Semakin banyak pesawat yang datang makin bagus, apalagi pesawat asing. Secara prinsip mereka sudah siap, tinggal meningkatkan pelayanan dan kapasitasnya.

“Mereka datang, membayar landing fee dan biaya lain terkait pemanfaatan jasa kebandaraan itu. Makin banyak pesawat yang datang makin bagus. Apalagi pesawat asing, karena tarifnya dalam dolar AS,” uja mantan Dirut AP Angkasa Pura (AP) II Edie Haryoto dalam diskusi terbatas di Jakarta, Selasa (9/12/2014).

Selama ini, bisnis inti AP adalah pelayanan jasa kebandarudaraan. Bisa dari landing fee, biaya parkir pesawat di apron, penggunaan dan pemanfaatan terminal dan sebagainya. “Semakin banyak pesawat yang datang dan membawa penumpang besar, makin menguntungkan bagi bandara,” jela dia.

Manager Humas dan Protokoler Bandara Soekarno-Hatta Yudis Tiawan menambahkan, jika yang datang itu pesawat asing tentu lebih menguntungkan. “Mereka datang dan pergi membayar jasa kebandaraan dengan tarif dolar AS. Meski diakui, tujuan pelayanan bandara ini bukan semata-mata mencari uang atau keuntungan,” kata dia.

Operator bandara dibawah BUMN, lanjut dia, harus memenuhi dua keinginan sekaligus. Mereka adalah pemegang saham yang diwakili Menteri BUMN untuk mencari untung dengan operator yang diwakili Menteri Perhubungan yang menuntut kita fokus pada pelayanan dan keselamatan penerbangan. “Keduanya harus dipenuhi dan dilaksanakan dengan baik,” jelas Yudis.

Dikatakan Edie, tahun 2013 lalu penumpang udara di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang Banten, misalnya mencapai 67 juta orang setahun. Jumlah pesawat yang datang dan pergi atau take off-landing mencapai kisaran 63 pesawat per jam.

“Semua itu mendatangkan uang dan menjadi bisnis utara operator bandara. Selama ini, pihak bandara sudah siap terutama 25 bandara yang dikelola dan dioperasikan BUMN AP I dan AP II. Semakin banyak pesawat yang datang, pendapatan mereka makin besar,” papar Edie.

Yang perlu dilakukan ke depan, menurut mantan pejabat BUMN itu, bagaimana pelayanan di bandara makin baik terutama kepada maskapai penerbangan serta penumpang yang dibawanya. “Semakin baik pelayanan kepuasan pelanggan makin tinggi. Itu tujuan utama BUMN bidang pelayanan jasa kebandaraan itu,” tukas dia.

Kendati begitu tambah Edie, pelayanan di Bandara Soetta misalnya, harus terus ditingkatkan. Jangan sampai ada komplain bahkan maskapai atau penumpang yang enggan terbang ke Soeatta. “Kalaupun ada komplain itu wajar. Tapi harus segera diselesaikan dengan baik,” tandas Edie.

“Bandara Soetta bukan hanya sebagai entitas bisnis, tapi juga pintu gerbang masuknya Indonesia bagi tamu asing dan inevstor luar negeri selain penumpang lokal tentunya. Mereka harus dilayani karena mereka adalah raja dan selayaknya dilayani dengan baik,” tegas Edie.(helmi/aliy/awe)

loading...