Angkasa Pura 2

Tarif Batas Bawah Mempersulit Maskapai Nasional Bersaing dengan Asing

KokpitSelasa, 9 Desember 2014
IMG_00000770_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Tinggal beberapa hari lagi, tepatnya 1 Januari 2015, ASEAN Open Sky akan berlaku. Pemerintah Indonesia pun sudah menetapkan lima bandara yang bisa diakses langsung oleh maskapai penerbangan dari negara-negara anggota ASEAN. Persoalannya, masih ada beberapa regulasi yang dinilai bakal menyulitkan maskapai nasional bersaing dengan maskapai-maskapai asing yang masuk ke Indonesia.

Salah satu regulasi yang dinilai bakal menyulitkan maskapai nasional adalah masih adanya ketentuan tarif batas bawah. Sementara maskapai-maskapai asing yang masuk ke Indonesia sudah dapat dipastikan tidak akan terkena ketentuan tersebut dan mereka bisa leluasa memberlakukan tarif sesuai kepentingan bisnisnya. Sehingga pemerintah diminta meninjau ulang adanya ketentuan tarif batas bawah bagi maskapai-maskapai nasional.

“Apakah tarif batas bawah itu masih perlu?” kata mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura II Edie Haryoto membacakan salah satu kesimpulan hasil diskusi dengan para awak media di Jakarta, Selasa (9/12/2014).

Edie mengatakan, alasan pemerintah yang sering mengaitkan penerapan tarif batas bawah sebagai upaya menjaga safety kurang tepat. Begitu juga dengan alasan agar tidak ada perang tarif antar maskapai penerbangan sehingga saling “terkam” sesama mereka dan akhirnya berujung bangkrut.

“Soal safety penerbangan sudah diatur baik oleh UU Penerbangan maupun regulasi yang dikeluarkan oleh ICAO sebagai badan penerbangan sipil internasional,” kata Edie.

Senada dengan Edie Haryoto, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai pemerintah kurang memperhatikan maskapai nasional, termasuk ketika harus menghadapi ASEAN Open Sky yang sebentar lagi berlaku.

“Saya sepakat dengan pemerintah bahwa safety harus menjadi nomor satu dan tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi kekhawatiran pemerintah bila menghapus ketentuan tarif batas bawah bisa memengaruhi faktor safety, kurang beralasan,” kata Pambagio.

Menurut Pambagio, ketentuan tarif batas bawah justru bisa membuat tarif maskapai nasional tidak kompetitif dengan maskapai asing. Sebab, dalam satu rute penerbangan bisa saja maskapai asing memberlakukan tarif yang jauh di bawah tarif yang diberlakukan oleh maskapai nasional. Sementara maskapai nasional tidak bisa menurunkan tarifnya karena terbentur oleh peraturan tarif batas bawah.

“Mendukung dan membantu maskapai nasional bukan berarti memanjakan mereka. Airline juga tidak harus dimanjakan. Tapi berikan aturan-aturan yang bisa membuat mereka bisa bersaing dengan fair,” tuturnya. (aliy/helmi/aw)