Angkasa Pura 2

Menteri Susi: Perangi Korupsi dan Illegal Fishing

Kelautan & PerikananSabtu, 13 Desember 2014
susi kkp

YOGYAKARTA (beritatrans.com) – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti tak pernah sepi dari pemberitaan. Menteri KKP yang ketiga itu dengan lantang menyatakan perang terhadap korupsi serta pencuran ikan atau ilegal fishing di Tanah Air.

Genderang perang yang ditabuh Susi pada pencurian ikan atau illegal fishing tak pernah surut. Selain berani melawan korupsi, dia juga tak akan pernah mundur dari para pencuri ikan di lautan Indonesia itu. Pencuri harus dilawan dan kapalnya ditenggelamkan.

Sejak menjadi Menteri KKP, Susi Pudjiastuti menjadi sorotan publik akibat kinerjanya yang dengan gencar memerangi pencurian ikan hingga gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.

Dalam diskusi Festival Antikorupsi di UGM Yogyakarta bertajuk “Saya Perempuan Antikorupsi” di Rabu (10/11) pekan lalu, seorang peserta penasaran pada sosok Menteri Susi. Peserta itu kemudian bertanya, “Dari mana Ibu Susi punya keberanian seperti itu?”

Menjawab pertanyaan itu, Susi mengatakan dirinya memegang prinsip dan berpikir tidak pernah merasa memiliki apa-apa, terutama harta benda. “Aset berharga saya cuma integritas dan profesionalitas. Harta itu titipan Tuhan, setiap saat diminta, ya, langsung habis,” jelas Susi seperti ditulis detik.com.

Susi mengakui, demi menjaga integritas dan profesionalisme, tak jarang dirinya terpaksa bergesekan dengan orang-orang yang berhubungan baik dengannya. “Hubungan baik tak boleh mengganggu profesionalitas. You (anda) di situ, kalau melanggar aturan, ya, saya tabrak,” tandas Susi.

Sebelumnya, Susi Pudjiastuti bersama TNI AL dan aparat keamanan menenggelamkan kapal pencuri ikan yang tertangkap di perairan Indonesia. Sedikitnya, 6 kapal pencuri ikan yang sudah terbukti dan berkuatan hukum ditenggelamkan ke dasar laut.

Aksi tegas Susi Pudjiastuti melawan illegal fishing itu akan terus dilakukan selama masih dipercaya menjadi Menteri KKP. Pencurian ikan nyata-nyata telah merugikan rakyat dan bangsa. Apalagi jika mereka menggunakan pukat harimau, maka kerusakan habitat laut makin besar terjadi di Indonesia.(helmi/aliy)

loading...