Angkasa Pura 2

Mengapa Harga Avtur di Indonesia Lebih Mahal?

KokpitSelasa, 16 Desember 2014
IMG_20141212_144132

JAKARTA (beritatrans.com) – Harga avtur di Indonesia lebih mahal di bandingkan negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Harga di Indonesia lebih mahal antara 2,5% sampai 7% per liter.

Kondisi tersebut dikeluhkan pelaku usaha khususnya maskapai penerbangan nasional. “Harga avtur di Indonesia lebih mahal sampai 7% dibandingkan di Singapura. Akibatnya membuat beban operasi maskapai nasional makin berat,” kata Ketua INACA Arif Wibowo di Jakarta.

Oleh karen itu, lanjut dia, INACA meminta struktur harga avtur ditinjau kembali. Aneka pungutan yang tidak terkait langsung dengan kepentingan maskapai sebaiknya dihilangkan.
“Dengan begitu, harga avtur di Indonesia lebih murah dan beban operasi maskapai lebih rendah,” kata Arif yang juga mantan Dirut Citilink Indonesia itu.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menambahkan, throughput fee yang ditarik BPH Migas melalui Pertamina hendaknya dihilangkan. Ini cukup membebani maskapai. “Apalagi, tak ada pelayanan yang diberikan oleh BPH Migas juga,” kritik Agus.

Maskapai nasional harus siap bersaing saat era pasar bebas ASEAN mendatang. “Struktur biaya arline harus ditekan dan mereka bekerja efisien. Tapi, pemerintah jangan membuat kebijakan yang tak kontraproduktif dan memberatkan maskapai,” papar Agus.

Sementara, anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim mengatakan, mahalnya harga avtur di Indonesia bukan hanya karena iuran BPH Migas.

“Iuran BPH Migas atas penjualan BBM nonsubsidi bukan hanya pada avtur. BBM nonsubsidi lainnya juga kena iuran serupa. Dan, iuran itu masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Kementerian Keuangan,” kata Ibrahim menjawab beritatrans.com di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

Yang membuat harga avtur di Indonesia lebih mahal, menurut Ibrahim, karena Indonesia harus impor termasuk dari Singapura. “Jadi, jelas biaya lebih hemat dan cukup dialirkan melalui jaringan pipa ke bandara,” kata Ibrahim.

Sementara, avtur di Indonesia harus impor karena produksi avtur di kilang dalam negeri kecil dibawah kebutuhan konsumsinya. “Avtur kita impor terutama dari Singapura. Implikasinya butuh transportasi, waktu dan biaya tambahan. Jadi, jatuhnya harga avtur kita lebih mahal,” terang Ibrahim.

“Harga avtur yang lebih mahal bukan hanya di Indonesia. Semua negara yang harus impor atau butuh transportasi jauh dan mahal dari kilang ke DPPU di bandara, pasti ke charge biaya transportasi. Implikasinya, harga yang ditanggung konsumen lebih mahal pula,” tegas Ibrahim.(helmi)

loading...