Angkasa Pura 2

Genderang Perang Ilegal Fishing Susi Pudjiastuti

Kelautan & PerikananJumat, 19 Desember 2014
Susi KKP3

JAKARTA (beritatrans.com) – Genderang perang terhadap kapal pencuri ikan (ilegal fishing) di Indonesia sudah ditabuh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dia bertekad tak akan pernah mundur, karena itu terkait dengan kedaulatan Indonesia. Wilayah laut Indonesia harus diamankan termasuk dari aksi pencurian ikan.

“Kita harus menjaga dan mengamankan wilayah teritorial Indonesia termasuk lautan dan kekayaan alam dibawahnya. Jika ada kapal nelayan asing mencuri ikan harus diamankan. Hukum ditegakkan demi tegaknya NKRI,” kata Susi Pudjiastuti di Jakarta, Kamis (18/12/2014) petang.

Untuk mengamankan laut dan mengejar kapal-kapal pencuri ikan jangan lagi bicara untung dan rugi. Untuk mengoperasikan kapal perang bahkan pesawat tempur butuh biaya besar. “Tapi itu bukan alasan untuk mengendurkan semangat kita memerangi pencurian ikan,” jelas Susi.

“Untuk kedaulatan NKRI, tak ada istilah rugi. Meskipun kecil, itu harus dilakukan. Jangan tanya aku, berapa biaya untuk menaruk kapal perang di Laut Natuna atau Laut Arafuru dan mengejar kapal kapal pencuri ikan. Ini terkait dengan kedaulatan NKRI sekaligus mengamankan aset dan kekayaan alam Indonesia di laut,” kata Susi.

Kapal nelayan asing yang mencuri ikan di lauatan Indonesia itu mencapai ribuan jumlahnya. Mereka juga berasal dari berbagai negara tetangga Indonesia mulai Thailand, Vietnam, Taiwan, Hongkong, Tiongkok dan lainnya.

“Itu baru yang terdeteksi satelit Indonesia. Pokoknya banyak akal dan caranya sehingga mereka bisa mencuri dan menangkap ikan di laut Indonesia,” tutur pemilik dan pendiri maskapai Susi Air itu.

“Dari pemantauan satelit, masih banyak terdeteksi kapal-kapal asing mencuri ikan di laut Indonesia. KKP langsung mendata dan melaporkan ke aparat keamanan khsusnya TNI AL dan Polri untuk mengangkap dan mengamankan mereka (kapal pencuri ikan) itu,” papar Susi.

Dia bersama seluruh aparat KKP tak henti-hentinya menyampaikan data kapal-kapal ikan yang mencuri di lautan Indonesia. “Kita sampaikan ini untuk membuktikan kita tahu aktivitas mereka mencuri ikan di Indonesia. Kita juga laporkan ke aparat keamanan terkait, agar segera bertindak. Jangan sampai masalah ini didiamkan bahkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan sendiri dari kasus iegal fishing ini,” terang Susi.

Kendati begitu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti atas nama kemanusiaan tetap mengizinkan 1.928 kapal asal Vietnam yang berawak 13.399 orang masuk ke wilayah Perairan Indonesia di Laut Natuna, Kepulauan Riau. Mereka secara resmi minta izin dan memohon perlindungan dari ancaman badai di tengah laut.

Dikatakan, Susi telah menerima surat permintaan langsung dari Pemerintah Provinsi Ba Ria Vung Tau, Vietnam perihal permintaan izin kapal-kaal nelayan mereka untuk berindung dari ancaman badai di lautan Natuna. Mereka secara resmi meminta perlindungan terhadap nelayan mereka dari serangan badai.

“Pada hari ini kita mendapatkan surat dari Kedubes Vietnam memohon perlindungan atas 1.928 kapal Vietnam yang membawa 13.399. Mereka ingin berlindung dari serangan badai di sekitar Natuna,” ungkap Susi saat berdiskusi dengan media di kantornya.

Permintaan Vietnam ini direspons positif oleh Susi. Menurut dia, biasa ratusan kapal Vietnam masuk ke wilayah perairan Indonesia tanpa izin untuk mencuri ikan. Sebanyak 1.928 kapal asal Vietnam tersebut akan dijaga ketat oleh TNI AL.

Badai yang dimaksud akan terjadi di sebelah timur laut Song Tu Tai Island. Perkiraan serangan badan pada level 8-9 (62-88 km/jam) dan dapat mencapai level 11-12 dengan mata badai sekitar 340 km/jam.

“Sudah ada keinginan baik. Jadi kalau ada 7.000 kapal berlalu lalang di laut Indonesia itu bukan omong kosong. Kapal Vietnam saja yang berkeliaraan di Laut China Selatan sampai Natuna sebegitu banyaknya,” paparnya.

Namun Susi menegaskan ke 1.928 kapal Vietnam hanya tinggal di Laut Natuna sementara. Dua minggu ke depan ribuan kapal tersebut harus keluar dari zona laut Natuna. “Diizinkan paling lambat 2 minggu ke depan harus keluar dari zona fishing Indonesia,” terang Susi.

Ditambahkan Susi jika negara sekecil Vietnam dan di daerah Lautan Natuna ada ribuan kapal ikan mereka, tak bisa dibayangkan bagaimana dengan wilayah laut Indonesia lainnya? Oleh karena itu, kalau ada oang bicara ada ribuan kapal ikan asing mencuri ikan di laut Indonesia itu bukan omong kosong.

“Anda tahu sendiri, hasi tangkapan apara keamanan bak TNI/ Polri dan penyidik KKP terhadap kapal pencuri ikan terus bertambah. Ini membuktikan pencurian ikan ittu masih ada dan terjadi di Indonesia,” tegas Susi.(helmi)