Angkasa Pura 2

KAI Berharap Pembangunan Jalur Ganda Kualanamu Sesuai Target

EmplasemenSabtu, 20 Desember 2014
Kereta api Medan

MEDAN (beritatrans.com) – Pembangunan jalur ganda dan melayang kereta api Medan-Kualanamu sekitar 15 kilometer diharapkan selesai sesuai target pada 2016 atau 2017 untuk meningkatkan layanan penumpang khususnya dari dan ke Bandara Kualanamu serta menekan kemacatan lalu lintas.

“Diharapkan dukungan dari semua pihak, apalagi lahan yang mau dibebaskan untuk kepentingan pembangunan itu adalah lahan PT KAI sendiri yang sudah lama digunakan masyarakat. lembaga dan pengusaha,” kata Kepala KAI Divre I Sumut-Aceh, Saridal di Medan, Jumat.

Dia menyebutkan, sosialisasi kepada masyarakat soal program pembangunan jalur ganda yang di antaranya ada jalur layang itu sudah dilakukan sejak tahun 2013.

Pembangunan jalan ganda yang sebagian ruas sudah dikerjakan tahun ini, sisanya direncanakan pada 2015.

“Untuk proyek 2015, akan dimulai dengan pengosongan lahan yang dpakai masyarakat, perusahaan BUMD, swasta dan pihak lainnya,” katanya.

Dia mengakui, ada pembebasan lahan hingga 18 meter kanan-kiri dimana nantinya ada sekitar enam meter sisa lahan yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya seperti disewakan kepada masyarakat yang berminat.

“Pembangunan rel ganda itu dikerjakan Satker Perhubungan. Pemerintah menilai perlunya ditingkatkan lalu lintas ke Bandara Kualanamu dan termasuk menekan kemacatan lalu lintas akibat melitasnya kereta api,” katanya seperti dilansir Antara.

Pemerintah menyediakan anggaran untuk proyek jalur rel ganda dan melayang itu sekitar Rp3,7 triliun hingga Rp3,8 triliun dengan harapan selesai dua atau hingga tiga tahun .

Jalur ganda melayang yang direncanakan di sembilan lintasan akan dibangun di dalam kota, sedangkan untuk jalur rel di luar kota hanya berupa jalur ganda.

Ketua Kamar Dagang dan Indusri (Kadin) Sumut, Ivan Iskandar Batubara menyebutkan, infrastruktur dan sarana transportasi di Sumut mulai kereta api, bus, kapal laut dan penerbangan udara memang harus dibenahi dan ditingkatkan.

“Terus terang, biaya transportasi di Sumut masih mahal dibandingkan daerah apalagi negara lain akibat minimnya jumlah dan rendahnya kualitas jasa angkutan.Mahalya biaya transportasi tentunya menjadikan biaya produksi mahal dan berdampak pada melemahkan daya saing,” katanya.

Khusus kereta api, kata dia, juga sangat diperlukan terus peningkatan jumlah dan kualitasnya karena sangat dibutuhkan penumpang serta pengusaha untuk transportasi barang. (anky)