Angkasa Pura 2

Tommy: Mengapa Kalah Dari Singapura dan New Zealand?

SDMMinggu, 21 Desember 2014
tomy2

JAKARTA (beritatrans.com) – Indonesia bukan negara miskin atau terbelakang. Tapi, harus diakui rakyat miskin di negeri ini masih banyak. Padahal, sumber daya alam (SDA) melimpah, tenaga kerja banyak dan potensi pasar juga tinggi. Indonesia mempunyai semuanya. Tapi, mengapa kita kalah dari negara kecil seperti Singapura atau New Zealand?

“Indonesia harus bangkit untuk membangun dan memperbaiki diri. Bangsa ini harus maju, produktivitas tinggi serta kesejahteraan rakyatnya meningkat,” ujar Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan Wahju Satri Utomo usai paparan mengerani Reformasi Birokrasi di hadapan pejabat eselon II-IV Kementerian Perhubungan RI di Jakarta, akhir pekan lalu.

Kini ada nilai-nilai dan semagat kerja yang baru yang lebih baik yang perlu kita serap dan diaplikasikan dalam kehidupan di rumah atau di tempat kerja. “Bangsa ini harus terus belajar, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan teknis yang dibutuhkan di lapangan. Selain itu membangun sikap dan etos kerja yang baik, mandiri, positif dan profesional,” jelas Tommy.

Oleh karena itu, kata dia, paparan mengenai Reformasi Birokrasi ini diikuti seluruh pejabat di lingkungan Kemenhub. Mereka adalah para manager yang mempunyai dan mengenalikan anak buahnya dalam melayani masyarakat. “Mereka harus diberikan penyegaran mengenai nilai-nilai, semangat kerja baru tersebut. Kita harus senantiasa belajar dan meningkatkan kemampuan diri, selanjutnya diaplikasikan di lapangan,” papar Tommy.

Kemajuan suatu negara tak tergantung usia atau SDA yang ada. Dia mencontohkan, negara Mesir dan India yang sudah berusia 1.500 tahun lebih sampai sekarang masih miskin dan terbelakang. Sementara, negara seperti Canada, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Australia dan New Zealand yang berusia kurang dari 150 tahun justru lebih maju.

“Produktvitas warganya tinggi dan kesejahteraan rakyatnya lebih dibandingkan negara lainnya. Jepang, negeri yang terkoyak bom atom akibat perang dunia kedua serta tanahnya tandus kini menjadi negara industri maju. Mereka itulah yang perlu ditiru dan dikembangkan di negeri ini,” urai Tommy.

Sikap mental dan etos kerja yang tinggi itulah yang mesti dibangun di Indonesia. Mereka itu dibentuk sepanjang tahun melalui pendidikan dan kebudayaan yang bagus pula. “Para imigran yang malas di negerinya bisa berubah setelah tinggal dan hidup di Amerika Serikat dan Eropa. Kini mereka bisa menjadi rajin dan sangat produktif. Mereka itu justru menjadi ujung tombak kemajuan baik di AS atau Eropa,” tukas Tommy.

Dari studi dan analisis para pakar, terang Tommy, nilai-nilai dan prinsip dasar penduduk di negara maju dan mereka terapkan dalam kehidupan adalah, etika sebagai sikap hidup dalam kehidupan sehari-hari. Mereka itu adalah kejujuran dan integritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan dan hukum masyarakat, hormat pada hak orang/ warga lain. Selain itu, mereka juga contoh pekerjaan, berusaha keras untuk sukses, mau bekerja keras atau gigih dan tepat waktu.

“Kini saatnya bangsa Indonesia bangkit dan maju. Sikap malas, etos kerja rendah dan lainnya harus dibuang jauh-jauh. Selanjutnya diganti kerja keras dan professional dengan semangat melayani yang harus dibangun dan diaplikasikan di tempat kerja. Zaman sudah berubah saat kini melayani rakyat bukan sebaliknya bermental juragan yang serba enak dan minta dilayani,” tegas Tommy.(helmi)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari