Angkasa Pura 2

LAPORTA STTD Bekasi Taklukkan Puncak Mahameru

DestinasiSelasa, 13 Januari 2015
puncak mahameruSTTD

Sebuah perjalanan yang sangat luar biasa dan tak akan terlupakan. Tak hanya kekuatan fisik yang perlu di taruhkan, tetapi juga mental, motivasi, dan ego untuk menaklukkan puncuk gunung tertinggi di Jawa, puncak Mahameru di Jawa Timur.

Taruna STTD angkatan 34 yang tergabung dalam LAPORTA (Land Transport Adventure) bersama 24 anggota intinya sepakat mendaki puncak Mahameru. Mendaki Gunung Semeru menjanjikan keindahan dan keajaiban Tuhan untuk menapaki puncak tertinggi Pulau Jawa, Mahameru 3676 mdpl.

Saat libur Desember, untuk cadet sepertiku, suatu bulan yang teramat dipuja dan dinantikan. Bersama teman-teman pendaki SEKOLAH TINGGI TRANSPORTASI DARAT (LAPORTA) selalu menunggu libur panjang. Hari-hari itulah kita bisa menyalurkan hobi mendaki gunung atau olah raga petuaalangan lainnya.

Untuk menutup tahun 2014 LAPORTA berencana untuk mendaki gunung tertinggi Pulau Jawa, Semeru. Semeru merupakan puncak gunung jetiga yang pernah kami taklukkan. Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa. Secara geografis gunung ini berada di dua wilayah administratif, yaitu Kabupaten Malang dan Lumajang. Dengan posisi antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT. Gunung Semeru memiliki puncak ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl).

Mahameru adalah sebutan untuk puncaknya dan Jonggring Saloko adalah nama kawahnya. Semeru termasuk gunung jenis stratovolcano aktiv yang berada didalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kawasan yang berada dilahan seluas 50.273,3 Ha.

Tidak sedikit para pecinta alam harus tewas saat pendaki Gunung Semera. Tapi justru membuat pesona puncak Mahameru semakin kuat bagi kebanyakan orang untuk didaki. Karena resiko yang cukup besar itu, mulai dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menuju jalur ke Puncak, pendaki hanya disarankan mendaki hingga pos Kalimati.

Mengingat kondisi cuaca yang terjadi d Puncak Mahaeru saat ini, pihak TNBTS tidak bertanggung jawab dari Pos Kalimati menuju puncak. Untuk pendaki yang masih penasaran akan Puncak Mahameru dipersilahkan untuk mendaki. Ingat, selalu waspada dan cuaca bisa berubah setiap saat, jangan sampai membahayakan pendaki sendiri.

Mahameru dikenal sebagai Puncak Abadi Para Dewa. Menurut legenda dan kepercayaan masyarakat Jawa, seperti ditulis di kitab Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, para dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Khayangan. Menurut orang Bali, Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru juga dilakukan oleh orang Bali.

Puncak Mahameru Cintaku

Naik KA Matarmaja dari Pasar Senen

Setelah apel, 24 orang anggota LAPORTA 34 berkumpul sebentar di Masjid Nurul Fikri untuk mengulas sebentar rencana ekspedisi Semeru. Keberangkatan direncanakan pada keesokan harinya pada pukul 15.30 melalui Stasiun KA Pasar Senen Jakarta. Menggunakan KA Ekonomi Martamaja, Jakarta–Malang.

Semua personel datang tepat waktu dengan memperhatikan tugas masing-masing yang dibagi saat briefing. Cukup sehari mempersiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa menuju Puncak Mahameru tersebut.

Sampai di Stasiun KA Malang, im LAPORTA langsung tancap gas menuju Pasar Tumpang dengan naik Angkot. Sebelumnya kami sudah menghubungi salah satu penyewaan truk untuk menuju base camp yaitu Ranupani. Mas Wahyu namanya, guide kami menuju Puncak Mahameru. Dia begitu baik dan memberikan full service. Tak cuma menyewakan truk, tapi dia juga dengan sukarela memberikan tempat untuk beristirahat, mandi dan lainnya.

Rumah Mas Wahyu sangat dekat dengan Pasar Tumpang. Kami sempat belanja kebutuhan dan logistik serta melakukan final packing sebelum siangnya kami berangkat ke Ranupani. Setibanya di Ranupani kami disambut dengan Bakso Malang yang panas dan disantan di tengah udara yang dingin Gunung Semeru.

Ranupani merupakan basecamp awal perjalanan dan merupakan tempat pendaftaran pendakian. Yang perlu kita persiapkan untuk mendapat surat ijin pendakian serta harus mengurus admistrasi lain sebelum melanjukan perjalanan ke Puncak Mahameru.

Setelah surat ijin pendakian ditangan, kita sudah bisa memulai perjalanan pendakian. Estimasi waktu pendakian Gunung Semeru bervariasi. Ada yang dua hari satu malam, ada yang sampai tiga hari dua malam dan yang standar umumnya adalah empat hari tiga malam. Ekspedisi LAPORTA memilih 4 hari 3 malam agar ada lebih banyak waktu untuk menikmati perjalanan dan kesempatan untuk summit attack 2 kali.

Setelah menginap semalam di Ranupani, tujuan pertama pendakian kami adalah Kalimati. Perjalanan 3 jam dengan medan yang masih landai di tengah hutan melawati bukit-bukit masih dengan senyum lebar kujalani. Akhirnya terlihatlah danau di tengah gunung dengan pemandangan bukit hijau disekelilingnya, tempat yang hijau, nyaman , dan dingin. Itulah Ranu Kumbolo.

Tanjakan Cinta

Di belakang Ranu Kumbolo, ada tanjakan, yang disebut orang Tanjakan Cinta. Bagian atasnya berbentuk seperti belahan hati. Menurut mitos bahwa siapa yang menaiki tanjakan ini dengan memikirkan orang yang dikasihinya dan tanpa menoleh kebelakang, akan berjodoh dengan orang tersebut. Karena terlalu semangat ingin cepat sampai ke Kalimati, tak terlintas sedikitpun mitos tersebut saat menaiki Tanjakan Cinta.

Selepas Tanjakan Cinta akan terlihat padang dengan rimbunan lavender yang sangat luas dikelilingi bukit dan Puncak Mahameru yang dikenal dengan Oro-oro Ombo. Perjalanan melalui Oro-oro ombo terbagi menjadi dua jalur, yaitu jalur kiri melewati punggungan bukit di sisi kiri atau jalur lurus yang menurun melalui padang sabana.

Selanjutnya, akan melewati hutan cemara yang disebut Cemoro Kandang menuju sabana Jambangan sejauh 3 Km. Di tengah cuaca gerimis, kami melakukan perjalanan dengan hati-hati dan terus bergerak agar suhu badan kami tetap hangat.

Walaupun track Cemoro Kandang terlihat masih bisa diatasi, tapi disini tersimpan secret story yang tak bisa diceritakan karena aku sudah sepakat ini merupakan konsumsi pribadi anak LAPORTA. Setibanya di Jambangan, puncak Mahameru akan mulai terlihat jelas disaat cuaca cerah tanpa kabut.

Perjalanan dari Jambangan dilanjutkan menuju pos Kalimati sejauh 2 Km. Kalimati adalah Padang Savana dengan pemandangan puncak Mahameru. Terdapat sumber air di dekat Kalimati, lumayan dekat kira-kira satu jam perjalanan pulang pergi, namaya Sumber Manik.

Sore hari sampai di Kalimati, sesegera mungkin mendirikan tenda karena hujan mulai turun deras. Dengan rencana awal kami istirahat di Kalimati untuk beristirahat hingga pukul 11 malam, kami batalkan karena beberapa anggota ekspedisi LAPORTA yang kondisinya tidak baik.
Alfian, ketua rombongan LAPORTA memutuskan untuk kita ngecamp selama 1 hari di Kalimati untuk memulihkan kondisi agar kita semua bisa summit attack.

Setelah seharian penuh untuk memulihkan kondisi, kami memulai summit attack pada jam 23.30. Selain untuk mengejar sunrise, pendakian ke Puncak Mahameru dilakukan saat dini hari untuk mengejar waktu. Perlu diketahui saat pukul sembilan pagi LAPORTA sudah harus turun dari puncak Mahameru karena dikhawatirkan akan adanya perubahan arah angin.

Perjalanan ini adalah perjalanan terberat karena medan yang akan dilalui cukup sulit. Selain menanjak medan yang akan ditempuh berupa pasir dengan batuan-batuan yang mudah longsor dengan tingkat kemiringan jalur yang cukup tajam. Dibutuhkan fisik (kesehatan), semangat, dan motivasi yang tinggi agar bisa sampai di Puncak Mahameru, tanah tertinggi di pulau Jawa.

Dari Kalimati, selama 2 jam perjalanan sampai di batas vegetasi, dan sudah tidak ada tumbuhan yang hidup. Sisanya merupakan track berpasir dan batu yang terjal. Disinilah ujian mental dan motivasi dimulai.

Kalau mau jujur, sebenarnya saya sendiri sangat hopeless banget bisa sampai ke Puncak Mahameru. Tetapi karena di support teman-teman yang begitu possitive dan di sugguhi pemandangan yang luar biasa, Kota Malang di waktu malam dan bintang yang begitu terang, saya bertahan dan mulai lagi berjalan tanpa menengok kebelakang.

Di belakang banyak pendaki dengan senter di kepala dan medan yang terjal, sedang kita berjalan selangkah mundur pula setengah langkah, tidak ada pegangan satupun. Seluruh pendaki memang harus extra hati-hati pada track ini.

Setelah 6 jam perjalanan dari batas vegetasi, sampai di Puncak Mahameru. Matahari yang mulai mengintip dari ufuk timur. Samudra awan yang begitu luasnya seolah tiada batas, hembusan angin dan gemuruh letusan Jonggring Saloko berpadu menjadi harmoni alam yang begitu merdu.

Terbayar sudah segala asa yang kami rasakan. Tinggal ada rasa haru dan puas melebur menjadi suatu rasa syukur yang kami tujukan pada keagungan dan kebesaran Allah Swt. Puncak Mahameru memang indah dan tak pernah kami lupakan.(amalia hasanah nur ahlina/ LAPORTA STTD Angkatan 34)