Angkasa Pura 2

Konsumsi Biofuel Naik, Tapi Terkendala Infrastruktur

Another NewsKamis, 15 Januari 2015
Rida-Mulyana1

JAKARTA (beritatrans.com) – Ditjen Eenergi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) masih terkendala terkait infrastruktur dan sarana transportasi ke berbagai daerah, terutama di daerah terpencil, perbatasan dan sebagainya. Biaya transportasi mahal karena harus diangkut pesawat terbang.

“Saatnya ini, mandatori B-10 atau biofeul dengan campuran 10% sudah jalan. Untuk sektor transportasi tak masalah bahkan sudah berjalan baik,” kata Dirjen EBTKE Rida Mulyana pada beritatrans.com di Jakarta, kemarin.
Data Ditjen EBTKE menyebutkan, konsumsi biofuel tahun 2014 mencapai 1,8 juta KL. Target tahun 2015 bisa naik menjadi 3,2 juta KL sampai 3,5 juta KL.

“Kalau melihat trend konsumsi dan kebutuhan BBM saat ini, target konsumsi biofuel sebesar itu bisa dicapai tahun ini,” sebut Direktur Energi Biofuel Ditjen EBTKE Dadan Kusdiana, menambahkan.

Saat ini, beberapa industri juga sudah menerapkan dan menggunakan B-10 itu. “Cuma, beberapa industri di daerah terpencil ada masalah, terutama angkutan dan fasilitas kilang BBM untuk blendingnya,” kata Rida.

Industri pertambangan seperti PT Freeport Indonesia misalnya, dia siap menggunakan biofuel dengan campuran 10%. Tapi, untuk membawa BBM ke lokasi industri Freeport sangat mahal bahkan harus diangkut dengan pesawat terbang.

“Secara prinsip, industri seperti Freeport siap mendukung. Tapi, itu masalah transportasi dan Kilang BBM untuk blending semua di Jawa atau paling dekat di Balikpapan,” jelas Rida.

Kasus serupa juga dialami beberapa industri pertambahan terutama di daerah remote. “Ketersediaan infrastruktur dan sarana angkutan masih minim sehingga biayanya mahal. Masalah ini, harus dipikirkan bersama ke depan,” terang Rida.

Kapal Perang

Kendala lainnya, menurut pejabat eselon I Kementerian ESDM ini, belum semua alat transportasi disesign atau bisa dikonversi menggunakan biofuel.

Misalnya, tambah Rida, kapal-kapal perang milik TNI AL belum semua bisa dikonversi dengan biofuel. “Mereka mengaku belum bisa, dengan alasan nanti akan menurunkan kemampuan dan daya jelajah kapal perang tersebut. Mereka baik TNI/ Polri masih keberatan soal itu,” urai Rida.

Dikatakan, biofuel ini mempunyai sifat anti air. Dengan begitu, kurang bagus dampaknya jika dipakai untuk bahan bakar kapal-kapal perang TNI. “Itu masalah lain yang tentu harus dipikirkan bersama,” tegas Rida.(helmi)

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari