Angkasa Pura 2

Kisah Kapal Navigasi dan KPLP Dalam Pencarian Korban AirAsia di Selat Karimata

DermagaJumat, 16 Januari 2015
IMG_20150116_145118_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Sebanyak 11 kapal Ditjen Perhubungan Laut bersama seluruh anak buah kapal (ABK) sudah membuktikan darma baktinya ikut mencari dan menemukan korban pesawat AirAsia QZ 8501.

Jika setiap kapal membawa 20 ABK maka ada 220 personel Kemenhub lengkap dengan alat SAR diturunkan ke laut untuk mencari dan menolong korban.
Kini sudah memasuki pekan ketiga mereka ikut berjuang menembus ombak dan gelombang Selat Karimata. Untuk mencari dan menemukan korban pesawat bukan pekerjaan mudah.

Mereka harus berjuang bersama Tim SAR Gabungan di bawah koordinasi Basarnas untuk menemukan korban pesawat naas AirAsia jurusan Surabaya-Singapura.

Pencarian korban di Perairan Selat Karimata dimulai dari Instruksi Dirjen Perhubungan Laut, Minggu (28/12/2014) malam. Salah satu tugas Kemenhub khususnya Dit Navigasi dan Dit KPLP adalah fungsi SAR. Saat ada korban di laut itulah kita diturunkan.

“Kita diperintahkan untuk membantu menolong pencarian korban di laut. Sebanyak 11 Kapal Patroli KPLP dan Kapal Navigasi dikerahkan menuju ke area pencarian,” kata Direktur Navigasi Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub yang juga Koordinator Tim SAR Ditjen Perhubungan Laut, Ir.A.Tony Budianto di Jakarta, Jumat (16/1/2015).

Dibawah koordinasi Basarnas, kapal-kapal Ditjen Perhubungan Laut bergabung ke Tim SAR di Perairan Selat Karimata. Mereka bergerak mencari korban di beberapa area pencarian. Tim SAR Kemenhub beroperasi dalam koordinasi yang jelas.

Kapal-kapal Perhubungan Laut yang memang didesign untuk bekerja. Jadi, pas sekali dengan kondisi di lapangan untuk mendukung SAR dan KNKT. “Jadi, kehadiran kami langsung pas dioperasikan untuk mendukung operasi SAR.”

“Kapal kita langsung mem-back up KNKT. Sejak pertama bergabung di Tim SAR, cuaca kurang bersahabat. Ombak tinggi antara 3-4 meter. Selain itu, arus air dalam laut juga deras, sehingga menyulitkan tim penyelam, termasuk yang di KN Jadayat,” papar Tonny.

IMG_20150116_141919_edit

Namun semangat teman-teman Tim SAR Gabungan dari KPLP, Basarnas dan TNI AL pantang menyerah. “Proses pencarian dilakukan siang malam selama cuaca bersahabat. Kerja sama antara kapal SAR yang dikoordinasikan dari KRI Banda Aceh kian intensif,” terang Tonny.

Sampailah saat sonar di KN Jadayat menangkap signal adanya black box. Signal makin kuat dan ditambah lagi temuan serupa dari Kapal Baruna Jaya milik BPPT serta KRI TNI AL.

“Setelah yakin itu signal black box, termasuk tim selam di KN Jadayat yaitu Serda Rajab Suwarno melakukan penyelaman. Dengan bantuan tim yang turun dengan kapal. Skoci, Rajab kembali turun guna mengambil black box tersebut.”

Itulah temuan paling berarti dalam tim SAR di KN Jadayat. Setelah black box ditemua, kemudian diangkat baru diserahkan ke Basarnas dan selanjutnya disampaikan ke KNKT untuk dilakukan investigasi.

“Kini, black box langsung dikirim ke lab KNKT di Jakarta untuk investigasi lebih lanjut untuk mencari penyebab kecelakaan maut itu,” urai Tonny.

Sekitar dua hari setelah FDR bagian black box diangkat, kemudian ditemukan pula CVR, bagian black box lainnya. “Kini lengkap sudah black box ditemukan dan berhasil diangkat dan diserahkan ke KNKT,” sebut Tonny.

Salah satu tugas Tim SAR sudah berhasil, yaitu mencari jenazah korban meski belum semuanya. Black box pesawat naas tersebut juga sudah ditemukan. Namun begitu, badan pesawat masih terus dicari dan jenazah korban lainnya.

Sambil melanjutkan pencarian jenazah korban, menurut Tonny, sebagian kapal dan pesawat asing sudah ditarik. Mereka bergabung mencari dan menemukan korban di tengah laut itu.
Kapal Ditjen Perhubungan Laut juga dikurangi.

“Beberapa Kapal Navigasi ditarik dan dikembalikan ke pangkalan masing-masing. Mereka mempunyai tugas dan fungsi yang berat, baik untuk navigasi atau memasok logistik ke personel terutama di menara suar terutama di daerah terpencil.
“Mereka juga harus dijaga dan dipasok bahan makanan untuk petugas di daerah terpencil itu,” sebut Tonny.

Kendati begitu, seperti disampaikan Dirjen Perhubungan Laut Capt Bobby Mamahit, masih ada 4 kapal Patroli KPLP yang dioperasikan untuk membantu Tim SAR.

“Mereka masih di perairan Selat Karimata lengkap dengan seluruh ABK dan peralatan SAR untuk mencari dan menemukan korban. Mereka masih diperbantukan sampai operasi SAR AirAsia QZ 8501 dihentikan,” tegas pejabat Kemenhub itu.(helmi/aliy)