Angkasa Pura 2

BBM Lagi Ditender, 4 Kapal Perintis Tunda Berlayar di Kepulauan Riau

DermagaKamis, 22 Januari 2015
kapal sabuk nusantara

BATAM (beritatrans.com) – Empat kapal perintis masing-masing KM Gunung Bintan, KM Terigas, KM Sabuk Nusantara 30 dan 39 yang biasa berlayar ke pulau-pulau di Provinsi Kepulauan Riau berhenti sementara, akibat tidak ada biaya untuk membeli bahan bakar minyak (BBM).

“Masalah proses anggaran tahunan, karena BBM itu disubsidi pemerintah melalui Kementerian Perhubungan,” kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kepri Muramis di Batam, Rabu.

Ia mengatakan operasional seluruh kapal perintis yang melayari Kepri ditanggung Ditjen Perhubungan Laut. Biaya solarnya sedang proses lelang di Jakarta. “Itu dilelang tiap tahun, dan belum selesai,” kata dia.

Pemprov Kepri berharap proses lelang pengadaan BBM untuk kapal perintis segera selesai, agar bisa segera melayani kebutuhan masyarakat.

Mengenai tidak adanya pelayaran ke Natuna pada awal tahun ini, ia mengatakan sebenarnya tidak masalah, karena Dinas Perhubungan memang melarang pelayaran ke arah Laut China Selatan.

“Pelayaran ke Natuna saat ini memang dilarang karena ombak tinggi,” tutur dia.

Kapal Perintis yang boleh berlayar hanya KM Bukit Raya dan satu unit kapal lainnya yang menelusuri Pulau Tujuh sampai ke Pontianak.

KM Gunung Bintan, KM Terigas, KM Sabuk Nusantara 30 dan 39 saat ini berhenti melakukan pelayaran karena perubahan harga BBM, memperlambat proses tender dan lelang dari Kementrian Perhubungan.

UBAH RUTE
Sementara itu, Sekretaris Komisi III DPRD Kepri Sofyan Samsir berharap proses tender dipercepat untuk kepentingan masyarakat. Ia juga berharap pemerintah meninjau ulang rute empat kapal perintis itu demi memudahkan transportasi masyarakat.

Contohnya KM Sabuk Nusantara 39, misalnya, yang berlayar dari Kijang – Letung – Terampa – Midai – Pulau Tiga – Sedanau – Pulau Laut – Ranai – Subi – Serasan – Pontianak, rutenya berputar, tidak pulang pergi.

“Dari Pontianak, KM Sabuk Nusantara 39 langsung ke Tambelan dan kembali ke Tanjungpinang. Artinya, terlalu jauh jangkauan masyarakat untuk kembali pulang ke tujuannya, sehingga ini yang perlu di tinjau ulang,” ucap Sofyan. (ant).