Angkasa Pura 2

Pakar Usulkan Angkot Tak Jadi Angkutan Umum

KoridorJumat, 23 Januari 2015
Angkot macet

JAKARTA (beritatrans.com) – Sebaiknya angkutan kota (angkot) dihapus sebagai angkutan umum di seluruh Indonesia. Beberapa kota yang mempunyai angkot seperti Bogor atau Jakarta misalnya justru memicu kemacetan. Tarif angkota juga lebih mahal dibandingkan moda transportasi yang lain.

Data Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebutkan, biaya operasional angkot lebih mahal dibandingkan moda transportasi lain seperti bus bahkan kereta api (KA).

“Biaya per penumpanh/ kilo meter (km) bus besar (maksimal 80 penumpanh) Rp79 per orang. Untuk bus sedang (maks 50 penumpang) Rp135/ orang, angkot (maks 12 penumpanh) Rp218 (Dirtjenhubdat, Maret 2006),” kata pakar transportasi Djoko Setijowarno pada beritatrans.com, di Jakarta, Jumat (23/1/2015).

Oleh karena itu, lanjut dia, akan sangat tinggi biaya operasional angkot jika harus melengkapi AC, seperti yang diminta Kemenhub.

Seperti diketahui, Menhub Ignasius Jonan meminta operasional angkutan umum kelas ekonomi baik AKAP/AKDP bahkan angkot akan dilengkapi dengan AC.

Menurut Djoko, moda transportasi angkot mahal biaya operasinya untuk dipasang AC. “Di Jakarta pernah ada angkot ber-AC, tapi tak laku, karena mahal tarif tak mendapatkan subsidi,” jelas staf pengajar FT Unika Soegijopranoto Semarang itu.

Sementara Permen No.10/2012 tentang Standar Pelayanan Minimum (SPM) Angkutan Massal Berbasis Jalan, sudahh mensyaratkan angkutan umum berpendingin.(helmi)