Angkasa Pura 2

Januari 2015 Deflasi 0,24 Persen,

BPS: Tarif Transportasi dan Penurunan Harga BBM Berpengaruh Signifikan

KoridorSenin, 2 Februari 2015
IMG_20141223_122429

JAKARTA (beritatrans.com) – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menuturkan, pihaknya mencatat periode Januari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,24. Ini adalah defllasi ketiga setelah Januari 1973 yang pada saat itu tercatat sebesar 1,65 persen, dan Januari 2009 yang juga mencetak deflasi sebesar 0,07 persen. Tarif transportasi ikut memberikan andil cukup signifikan. Jika tarif transportasi turun lagi, maka deflasi bisa semakin tinggi.

“Ada sejumlah komoditas penyumbang deflasi Januari 2015 ini. Pertama adalah bensin, yang menyumbang deflasi 0,71 persen dengan perubahan atau penurunan harga sebesar 15,33 persen,” kata Suryamin di Jakarta, Senin (2/2/2015).

Dia menjelaskan, deflasi ini disebabkan kebijakan pemerintah yang menurunkan harga premium pada 1 Januari 2015 dari Rp 8.500 per liter menjadi Rp 7.600 per liter. Lalu, pemerintah menurunkan lagi pada 19 Januari 2015, dari Rp 7.600 menjadi Rp 6.700 per liter untuk Pulau Jawa, Rp 7.000 per liter untuk Pulai Bali, serta Rp 6.600 per liter untuk pulau di laur Jawa, Madura, Bali.

“Terjadi penurunan di 82 kota IHK, dengan kisaran 12,07 persen sampai 16,49 persen,” ucap Suryamin.

Komoditas kedua penyumbang deflasi Januari 2015 adalah cabai merah dengan andil sebesar 0,22 persen, dan perubahan harga 24, 73 persen.

Suryamin bilang, hal ini disebabkan pasokan mulai meningkat lantaran sudah memasuki musim panen.
Terjadi penurunan harga di 74 kota IHK, dimana penurunan tertinggi terjadi di Jayapura dan Watamone masing-masing sebesar 55 persen, serta Gorontalo sebesar 54 persen.

Sementara itu komoditas ketiga penyumbang deflasi Januari 2015 adalah tarif angkutan dalam kota dengan andil sebesar 0,07 persen, dengan penurunan harga 2,2 persen. Suryamin berujar, hal ini didorong penurunan harga BBM. Namun, dia menuturkan, penurunan tarif angkutan dalam kota baru terjadi di 22 kota IHK, dari 82 kota yang diamati.

Penurunan tarif tertinggi terjadi di Ternate 17 persen, dan Sukabumi serta Palembang masing-masing 13 persen. “Coba kalau 82 kota itu turun semua, deflasinya juga lebih besar. Ini masih ada yang belum menurunkan. Ya, pemerintah nanti pasti akan mengatur,” imbuh Suryamin.

Selain ketiga hal tersebut, penyumbang deflasi Januari 2015 yakni tarif angkutan udara dengan andil sebesar 0,07 persen dan dengan penurunan harga sebesar 10,84 persen. Cabai rawit juga menyumbang deflasi dengan andil sebesar 0,06 persen, dan komoditas solar menyumbang deflasi dengan andil sebesar 0,02 persen.(helmi)