Angkasa Pura 2

Punya Stempel Ditjen Hubla

Polda Metro Jaya Ringkus Sindikat Pemalsu Buku Pelaut

DermagaRabu, 11 Februari 2015
dokumen-pelayar-D

JAKARTA (beritatrans.com) – Sub Direktorat Sumber Daya Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, membongkar sindikat pemalsu buku pelaut dan menahan tiga tersangka yang membuatnya.

Kasubdit Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Adi Vivid, mengatakan, ketiga tersangka itu yakni Direktur PT Lakemba Perkasa Bahari berinisial RA, karyawan PT Lakemba Perkasa Bahari, HN dan JL.

“Para tersangka ditangkap di kantornya di daerah Cibubur. Saat ini sudah dilakukan penahanan di Polda Metro Jaya,” ujar Adi, Rabu (11/2).

Adi menambahkan, RA berperan sebagai pemilik PT Lakemba Perkasa Bahari; HN berperan menulis, memberikan penomoran dan stampel pada foto calon pelaut; sementara JL berperan membubuhkan tanda tangan, memberi tanggal serta stampel Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla), sekaligus sebagai penjual buku palsu tersebut.

Dikatakan Adi, pihaknya telah memeriksa sembilan orang yang membeli buku pelaut palsu dari para tersangka. Sembilan orang itu sempat diamankan di Bandara Soekarno Hatta, saat akan terbang menuju Trinidad Tobago untuk bekerja sebagai anak buah kapal di Imperial Shipping Company. Namun, akhirnya penyidik hanya menjadikan mereka saksi korban.

“Mereka saksi korban. Rata-rata datang dari kampung dan sudah mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan buku pelaut dan pekerjaan itu,” ungkapnya seperti dirilis beritasatu.

Adi menyampaikan, kasus ini bermula dari informasi masyarakat terkait adanya penggunaan buku pelaut palsu. Selanjutnya, penyidik melakukan penyelidikan dan melakukan penggerebekan terhadap sebuah mobil berisi 10 orang pelaut yang akan berangkat ke Trinidad Tobago, di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, sekitar pukul 16.00 WIB, Rabu (21/1).

Adi menyampaikan, sembilan dari 10 orang tersebut mengantongi buku pelaut diduga palsu dari PT Lakemba Perkasa Bahari.

“Mereka menggunakan buku pelaut palsu. Artinya, belum memiliki kompetensi keahlian dan keterampilan sebagai pelaut,” jelasnya.

Adi mengungkapkan, pada saat penggeledahan di Kantor PT Lakemba Perkasa Bahari, penyidik juga menemukan sebuah buku tebal berisi catatan pembeli buku pelaut palsu.

“Jumlahnya ada sekitar 3.000 orang yang membeli selama empat tahun belakangan ini,” tandasnya.

HANYA 1 TERDAFTAR
Sementara itu, Kanit Dokumen Pelaut Syahbandar Tanjung Priok, Hani Mamengko, menjelaskan sembilan orang berinisial SL, VB, NES, W, MAA, EM, MK, ES, dan AK, itu tak terdaftar di Ditjen Hubla. Hanya satu orang berinisial YR yang terdaftar.

“Jadi sembilan orang itu memiliki dokumen palsu. Mereka tidak terdaftar di Ditjen Hubla,” tegasnya.

Akibat perbuatannya, ketiga tersangka terancam dijerat Pasal 263 KUHP, Pasal 266 KUH Juncto Pasal 145 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Juncto Pasal 55 KUHP dan Pasal 56 KUHP. Ancaman hukuman di atas 5 tahun bui. (aliy/helmi).