Angkasa Pura 2

Pembatasan Kendaraan Pribadi di Jakarta harus Dibarengi Perbaikan Angkutan Umum

KoridorSenin, 23 Februari 2015
Bus Transjakarta

JAKARTA (beritatrans.com)- Sejalan dengan kebijakan pembatasan kendaraan pribadi masuk Jakartamemang harus dilakukan. Tapi, Pemerintah tidak bisa melarang total kendaraan masuk ibukota. Oleh karena itu, kebijakan yang dibuat harus bersifat holistic, tidak memihak kelompok atau golongan tertentu. “Tapi yang jelas harus teta pada kepentingan rakyat, bangsa dan Negara,” cetus Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menjawab beritatrans.com di Jakarta, kemarin.

“Jakarta sekarang sudah menjadi kota “macet”. Bahkan tidak ada pilihan, mau melibtas di jalan tol atau jalan arteri sama macetnya, terutama pada agi dan sore hari saat berangkat atau pulang kerja,” kata Tulus lagi.

Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta harus membangun angkutan umum masal yang lebih baik. “Bisa membangun membangun angkutana missal berbasis bus sepertu bus Trans Jakarta atau berbasis rel seperti KRL. Keduanya terbukti efektif mengurangi kemacetan di Jakarta masih belum maksimal,” jelas Tulus.

“Angkutan umum di Jakarta dan kota lain di Indonesia harus dibenahi dan ditingkatkan pelayanannya. Angkutan kota di Jakarta harus aman, nyaman dan harganya terjangkau. Oleh karena itu, perlu  pemerintah turun tangan. Jangan semua diserahkan pada operar swasta,” saran Tulus.

“Pemerintah baik di pusat atau Pemda melalui kebijakan yang dibuat harus mendukung dan proangkutan umum. Untuk itu, perlu memberikan isentif fiscal seperti keringana  pajak, bea masuk impor suku cadang dan lainnya. Untuk Pemda, bisa memberika kemudahan dan keringanan biaya kir kendaraan. Semua itu akan membantu meringakan beban operator angkutan umum di Tanah Air,” papar Tulus.

Selama angkutan umum buruk, apalagi tidak ada maka orang akan menggunakan kendaraan pribadi baik mobil atau sepeda motor.  Fenomena itulah yang sekarang terjadi di Jakarta dan kota-ota besar lain di Indonesia.

“Maraknya kendaraan pribadidi Jakarta salah satu penyebabnya karena angkutan umum yang buruk.  Jika angkutan umum diperbaiki, enak dan nyaman orang akan beralih dan meninggalkan kendaraan pribadi di rumah. Kini, kedua kebijakan itu  harus seiring sejalan. Perlu pembatasan kendaraan pribadi, tapi juga dibarengi dengan membangun angkutan umum yang baik,” tegas Tulus.(helmi).

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari