Angkasa Pura 2

Seminar Sislognas STIP,

Tekan Biaya Logistik Perlu Perbaikan SDM dan Infrastruktur Nasional

SDMKamis, 26 Februari 2015
IMG_20150226_100255

JAKARTA (beritatrans.com) – Indonesia membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing tinggi jika ingin menekan biaya logistik nasional. Biaya logistik di Indonesia tergolong tinggi dan memberatkan dunia usaha.

“Biaya logistik nasional kini mencapai 23,5 persen dari PDB. Jumalh itu menduduki peringkat ke 50 dunia. Selain itu juga membebani dunia usaha dan akhirnya juga konsumen,” ujar Kabid Angkutan Kontainer DPP INSA Suyono dalam seminar tentang Angkutan Laut dan Sistem Logistik Nasional di Kampus STIP Jakarta, Kamis (26/5/2015).

Menurutnya, jika pemerintah serius membahi dunia usaha dan menurunkan biaya logistik nasional maka harus dilakukan secara simultan dan berkelanjutan.

“Infrastruktur kapal dan pelabuhan dibenahi, SDM ditingkatkan kualitasnya, pelayanan bea cukai, karantina, imigrasi dan lainnya juga harus baik. Selain itu, mental dan pelayanan aparat pemerintah harus dibenahi semua,” kata Suyono.

Jika semua itu bisa dilakukan, Suyono, optimis target menurunkan biaya logistik nasional bisa dilakukan. “Kalai tahun 2019 bisa turun ke peringkat 40 dunia sudah bagus. Target itu dirasa cukup realistis,” jelas pengusaha pelayaran itu.

Dikatakan, SDM Indonesia khususnya pelaut tak kalah bersaing di dunia international. “Bayak pelaut-peluat Indonesia alumni STIP menjadi nakhoda di Timur Tengah bahkan Eropa. Mereka berhasil lolos dan berkarie di sana karena berprestasi,” sebut Suyono.

Sejalan dengan program Tol Laut Preiden. Jokowi serta rencana membangun 24 pelabuhan international di Tanah Air, praktis membutuhkan SDM yang hebat.

“Semua SDM harus pilih tanding, baik di pelabuhan, pelayaran, pemerintah dan lainnya. Jika kualitas SDM dibenahi dan infrastruktur terus ditata, maka bisa menekan biaya logistik itu,” papar Suyono.

Pada akhirnya nanti, tambah dia, disparitas harga barang dan Jasa di Indonesia bisa diturunkan. “Misalnya, harga semen di Jawa Rp65 ribu per zag, sedang di Papua mencapai Rp1 juta per zag. Disparitas itu yang harus ditekan dengan membenahi sistem logistik dan SDM yang ada,” tegas Suyono.(helmi)