Angkasa Pura 2

Tommy: Indonesia Butuh Banyak Instruktur Keselamatan Transportasi

SDMJumat, 27 Februari 2015
IMG_20150224_144756_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Program Pendidikan dan latihan (diklat) instruktur transportasi akan dilakukan secara bertahap. Indonesia butuh ribuan instruktur keselamatan dan pelayanan guna mewujudkan transportasi umum yang baik, aman dan selamat serta memuaskan.

“Untuk tahap pertama, akan direkrut 300 orang yang dipersiapkan menjadi instruktur keselamatan baik moda transportasi darat, laut, udara dan kereta api (KA),” kata Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo menjawab beritatrans.com di Jakarta, Jumat (27/2/2015).

Menurutnya, untuk diklat calon instruktur keselamatan cukup dengan waktu 20 hari sampai sebulan. “Tugas mereka nanti tak terlalu berat, yaitu mengawasi operator transportasi dan memastikan mereka beroperasi sesuai SOP dan aturan keselamatan yang tinggi,” jelas Tommy.

Tugas mereka, lanjut dia, juga tidak monoton di satu tempat. Tapi bisa mobile dan siap melakukan kerja sewaktu-waktu. “Mereka harus melakukan rhamchek selain pemeriksaan di terminal, pelabuhan, bandara atau stasiun. Memang kita butuh lebih banyak instruktur, tapi bisa dididik secara bertahap,” terang Tommy.

Yang jelas, papar dia, diklat pertama untuk 300 instruktur akan segera dilakukan. Yang paling mendesak adalah instruktur keselamatan transportasi darat, yang saat ini masih sangat kecil jumlahnya.

Tommy menambahkan, Kemenhuh akan memberikan bantuan 1.000 bus baru ke daerah. “Selain bus, juga dilengkapi pengemudi dan teknisnya. Konsekuensi semua itu, pengawasan terutama terkait keselamatan harus ditambah. Disinilah signifikansinya kita perlu mendidik instruktur baru tersebut,” urai Tommy.

Kebutuhan tenaga instruktur bukan hanya di pemerintah pusat. Dinas Perhubungan di daerah juga harus punya instruktur, untuk memastikan izin trayek yang diberikan serta armada kendaraan yang dioperasikan memenuhi syarat keselamatan dan kenyamanan bagi penumpang.

Seperti diketahui, Kemenhub akan memberikan bantuan 1.000 bus ke 34 provinsi di Tanah Air. Bus tersebut akan dioperasikan untu pioneer bus rapit transit (BRT) di daerahnya.

“Paling tidak, setiap ibukota provinsi di Indonesia mempunyai angkutan umum yang baik. Kemenhub bisa memberikan bantuan awal bus gratis itu,” jelas Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Djoko Sasono.

Untuk kota-kota besar dengan populasi sampai 1,2 juta jiwa, menurut Djoko, masih layak mengembangkan BRT berbasis bus.

“Jika populasinya sampai 10 juta jiwa seperti Jakarta, butuh BRT berbasis rel, bus bahkan angkutan perairan yang baik dan melayani,” tegas Djoko.(helmi).

loading...