Angkasa Pura 2

Capt.Zayvier Zacharias

Pilot Muda Alumni Angkatan 59 STPI Curug

FigurSabtu, 28 Februari 2015
IMG_20150228_104546_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Pilot adalah profesi yang prestisius dan menjanjikan penghasilan yang tinggi. Bagi seorang pilot, dalam sebulan bisa membawa pulang sampai Rp80 juta. Pilot yang profesional dan terbang di maskapai asing penghasilan mereka bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Tapi, untuk menjadi pilot syaratnya berat, otaknya encer dan kondisi kesehatan tetap prima.

Demikian disampaikan Capt Zayvier Zacharias, seorang pilot angkatan 59 di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang dalam acara talk show di arena World Education Festival 2015, Sabtu (28/2/2015).

Zayvier terinspirasi menjadi pilot karena ayahnya seorang pilot, Capt Adil Wicaksono. Adik pilot di maskapai Garuda Indonesia yang juga alumni STPI angkatan 19.

Pilot muda ini mengawali karier terbang di Garuda Indonesia sebelum akhirnya berkarie di Maskapai Kalstar.

Perjalanan kariernya terbilang mulus, meski butuh perjuangan berat. “Hidup ini harus berjuang dan pasti banyak tantangan. Termasuk untuk menjadi pilot tentunya,” kenang Zayvier.

IMG_20150228_113005

“Saya dan adik Myra Wicaksono yang
kini menjadi pramugari Garuda Indonesia, sejak kecil sudah akrab dengan dunia penerbangan. Teman dan kolega ayah rata-rata pilot sering datang ke rumah dan saya mulai berkenalan dengan mereka,” katanya menjawab beritatrans.com.

Sejak kecil, saya sudah akrab dengan hal-hal terkait penerbangan. Ayah seorang pilot bahkan masih terbang diusianya ke-62 tahun. Dari pergaulan dengan insan penerbangan bahkan sering diajak ke bandara atau bahkan ke simulator, memicu semangat untuk menjadi pilot.

“Saat besar nanti ingin menjadi pilot juga. Tapi yang paling memacu semangat untuk menjadi pilot karena tak ingin terpaku dengan proses belajar mengajar di kelas yang monoton bahkan sering membosankan. Sejak saat itu, saya ingin belajar yang langsung bekerja dan tak terpaku di kelas,” cetusnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah melalui proses panjang dan saingan berat, saya lolos masuk ke STPI. “Tes untuk masuk taruna penerbang bukan ringan. Pertama, tes kesehatan dan syarat-syarat fisik harus dipenuhi. Selanjutnya, tes potensi akademik (TPA) meliputi pengetahuan umum, IPA, fisika, matematika dan lainnya,” kata Zayvier yang didampingi ibu dan adiknya itu.

Lolos TPA pun, lanjut dia, bukan berarti perjuangan menuju STPI selesai. Calon taruna harus lolos bakat menjadi penerbang. Selain itu juga test psikologi yang banyak dan melelahkan itu.

Setelah lolos dan masuk STPI, sebut Zayvier, harus diawali dengan masa dasar pembentukan sikap mental (Mada bintal) sebagai calon penerbang. Kita masuk STPI digembleng oleh para instruktur sebagai sosok taruna transportasi khususnya taruna penerbang.

“Setelah itu, baru proses kuliah di dalam kelas sampai 18 bulan. Selanjutnya, enam bulan masuk simulator sebelum terbang dengan pesawat saat latihan sebagai siswa penterbang. Masuk simulator pun harus antre dan setiap taruna butuh waktu sekitar 3 jam per orang,” terang Zayvier.

Jika sudah lolos simulator, kemudian latihan terbang dengan pesawat latih bersama instruktur. Jika sudah lulus, baru terbang sendiri atau terbang solo. “Jika kita sudah bisa terbang solo, baru kita layak menjadi pilot. Itupun dengan predikat Comercial Pilot Lisence (CPL). Dari CPL kita masuk diterima maskapai dan harus mengambil ratting untuk bisa membawa jenis pesawat tertentu seperti Boeing 737, Boeing 777, Airbuss A319, A320 dan lainnya.

“Menjadi pilot pun ada jenjangnya, mulai co pilot. Terbang di kiri dan kanan, semua ada proses dan ujiannya. Jika sudah mampu mempunyai jam terbang cukup, baru bisa menjadi capten pilot. Untuk Capten pilot, harus mempunyai 2.500 jam terbang dan juga sesuai kebijakan maskapai yang bersangkutan,” terang Zayvier.

Misalnya, di Garuda Indonesia untuk menjadi capten pilot harus mempunyai 3.000 jam terbang. Di Kalstar harus 3.500 jam terbang. “Tapi, jika maskapai membutuhkan atau ada pilot yang pensiun bisa langsung naik menjadi capten pilot. Sebaliknya, jika maskapai belum membutuhkan meski jam terbang sudah cukup belum tentu naik menjadi capten pilot,” tandas Zayvier.

Yang pasti, tambah dia, untuk menjadi capten pilot bukan hanya jam terbang. Tapi juga prestasi, dedikasi serta pengabdian yang cukup. “Dan satu hal yang tak bisa ditawar-tawar, medical check up harus lolos dan tetap fit. Seorang pilot harus medical check up rutin setiap enam bulan. Jika tidak lolos, jangankan menjadi capten pilot tapi justru dia dilarang terbang,” tegas Zayvier.(helmi)