Angkasa Pura 2

Saat Sidak di STIP, Jonan: Syukurlah Kesejahteraan Pegawai Bagus

SDMSenin, 9 Maret 2015
IMG_20150309_155505

JAKARTA (beritatrans.com) – Ada pemandangan menarik dalam kunjungan Menteri Perhubunan Ingasius Jonan ke Kampus STIP Marunda, Jakarta Utara. Di tengah suasana serius itu, Jonan justru “mengkritik” stafnya yang berperut buncit.

Menhub Jonan baru pertama kali masuk ke Kampus STIP Jakarta Utara. Tapi yang pertama kali menarik perhatiannya gemuk dan perutnya buncit. “Dosen dan pimpinan di STIP pada bulat (gemuk-red) semua. Syukurlah Ini berarti kesejahteraannya bagus. Tapi jangan lupa, kualitas pendidikan dan lulusan STIP juga harus ditingkatkan,” ujar Menhub Ignasius Jonan sambil tertawa saat berkunjung ke Kampus STIP Marunda, Jakarta Utara, Senin (9/3/2015) petang.

Para dosen dan pimpinan STIP rata-rata gemuk. Kecuali Ketua STIP Capt.Arifin Soenardjo, yang berpostur tinggi dan berkumis tebal itu. Dengan gaya jenaka serta jalan cepat, Jonan pun menyalami seluruh dosen dan pimpinan STIP yang menyambutnya di lobby kampus para peluat itu.

Hampir semua fasilitas dan perlengkapan pendidikan di STIP tak luput dari pantauan Menhub. Saat berkunjung ke Lab dan Simulator Kapal di STIP, lagi-lagi Jonan mengkritik anak buahnya yang berberut buncit.

Jonan datang bersama rombongan langsung disambut seluruh pimpinan STIP bahkan taruna pun ikut sibuk menyambut orang nomor satu di Kementerian Perhubungan itu. Jonan diantar Kepala BPSDM Perhubungan dan Ketua STIP berkeliling kampus. Sejumlah fasilitas pendidikan dan latihan untuk taruna di Kampus STIP Marunda Jakarta Utara.

Dalam kesempatan tersebut, Jonan STIP kembali menegaskan harapannya. Kampus STIP harus maju dan berdaya bersaing tinggi. Implikasinya, mampu menghasilkan pelaut-pelaut andal untuk membangun Indonesia ke depan.

“Untuk mendukung ide besar tersebut, seluruh sekolah transportasi di bawah BPSDM Perhubungan harus menjadi Badan Layanan Umum (BLU),” kata dia.

Dengan menjadi BLU, jelas Menhub akan lebih luwes dan mudah mengelola anggaran. Selain itu juga bisa menarik bayaran dari orang tua taruna untuk membantu biaya pendidikan putranya di STIP.

“Kampus-kampus seperti STIP bisa memanggil dosen dan instruktur yang berkualitas bila perlu dari luar negeri. Dengan begitu, mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan pada akhirnya menghasilkan lulusan yang lebih baik pula,” jelas Jonan.

Menhub sempat bertanya pada salah satu taruna yang menyambutnya. “Kamu sekolah di STIP Membayarkan? Berapa nilainya setiap tahun,” tanya Jonan lagi. “Membayar pak, Nilainya berbeda-beda untuk setiap smester. Untuk taruna semster VII setahun membayar Rp12,5 juta per orang,” jawab seorang taruna sigap.

Jonan pun tak kalah tangkas menimpali. “Tak apalah, nanti kalau sudah bekerja akan mendapat gaji besar. Apalagi jika berlayar di kapal-kapal asing, tentu gajinya lebih besar,” kilah mantan Dirut KAI itu.

Menhub juga melanjutkan, semua pungutan untuk biaya pendidikan di STIP atau sekolah lain di bawah BPSDM Perhubungan adalah untuk keperluan taruna sendiri. “Pendidikan butuh biaya besar mulai dosen, alat paraga atau pengadaan simulator juga mahal. Belum lagi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) termasuk alat tulis kantor serta sepatu dan seragam taruna.”

“Kini pemerintah harus berbagi dengan kebutuhan di masyarakat lainnya. Tidak semua kebutuhan pendidikan dan latihan untuk taruna bisa dipenuhi pemerintah melalui APBN. Kini saatnya masyarakat khususnya orang tua taruna ikut berkontribusi dengan membayar biaya pendidikan untuk anaknya,” tukas Jonan.

Apapun adanya, Jonan meminta seluruh dosen dan taruna STIP untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Tantangan yang akan dihadapi makin berat dan persaingan juga tidak ringan. “Hanya dengan kualitas diri yang baik akan mampu memenangkan persaingan di masa mendatang,” tegas Menhub.(helmi)