Angkasa Pura 2

Taruna STIP Siti Patmawati Selama Setahun Jelajahi Ganasnya Samudera di Puluhan Negara

Figur SDMSabtu, 14 Maret 2015
Fatma1

Perjuangan Pahlawan Nasional RA.Kartini, yang menuntut persamaan hak atau emansispasi wanita di Indonesia mulai menunjukkan hasil. Perjuangannya untuk meningkatkan derajat kaum hawa tak sia-sia. Kini makin banyak wanita Indonesia yang sukses meniti karier sampai ke puncak seperti nakhoda daan pilot profesional.

“Peluang untuk berprestasi baik pria atau wanita sama. Selama bekerja keras, tekun dan disiplin apapun bisa diraih oleh wanita Indonesia. Kini, saya siap menjadi nakhoda untuk mengarungi laut luas melawan ombak dan badai yang ganas. Itu justru menjadi tantangan bagi kita, bagaimana menaklukkan genasnya alam itu dengan kemampuan dan kecerdikan akal yang diberikan Allah Swt pada manusia ini,” kata taruni Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Marunda, Jakarta Utara, Siti Patmawati.

Dalam perbincangan dengan beritatrans.com di Jakarta, Jumat (13/3/2015), wanita yang bercita-cita menjadi master atau captain kapal itu mengaku bangga dengan prestasinya di kampus STIP Jakarta. Ditahun ketiga di STIP, ia terusmelalui semua program pendidikan sesuai kurikulum yang ada.

“Setelah dua tahun belajar di kampus, di tahun ketiga harus naik kapal. Dalam waktu setahun, harus mempraktikkan ilmu dan pengetahuan dari kampus dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Saya ikut kerja magang di pelayaran Altus Anglo Eastern, perusahaan yang bebasis di Hongkong,” katanya bersemangat.

Fatma2

Dia bersama ratusan taruni STIP angkatan 54 sudah berhasil praktik laut atau prala. “Selama setahun 21 hari, kita berlayar di kapal petikemas itu. Berbagai tantangan dan hambatan di laut dengan ombak dan topan berhasil kami taklukkan. Puluhan negara di Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia sudah dijelajahi,” kata Patma, begitu ia biasa disapa.

Pelaut ternyata bukan hanya bicara soal enak, seperti gaji besar atau kesejahteraan yang berlebih. Tantangan dan hambatan di lapangan juga besar dan beragam. “Salah satunya tantangan alam. Berlayar mengarungi laut harus berani menghadapi terjangan ombak dan badai. Saat itulah kita harus berani, disiplin sekaligus cepat dan tepat mengambil keputusan,” kisah Patma.

Oleh karena itu, selama taruna belajar di kampus bahkan sejak sipencatar harus mendalami beragam ilmu pasti baik matematika, fisika, kimia dan lainnya.

“Saat berlayar, kemampuan itu sangat dibutuhkan oleh setiap pelaut. Kita harus cermat menghitung peluang dan tantangan. Berapa kecepatan kapal, apa muatan yang dibawa dan bagaimana bisa menghindari jika di tengah laut harus menghadapi badai atau ombak setinggi 8-9 meter menghadang kapal. Tanpa bekal ilmu pasti yang cukup, akan banyak menghadapi kendala di laut nanti,” jelas dara cantik itu.

Patma bersama ratusan taruna STIP Jakarta lain berhasil menyelesaikan pogram praktik laut. Tantangan dan hambatan di tengah laut selama setahun berhasil ditaklukkan.

“Semua taruna baik jurusan nautika, teknika bahkan tata laksana harus praktek laut dan naik kapal. Saat itulah seorang pelaut harus siap mengahadi ganasnya alam dan cuaca yang tak bersahabat,” sebut Patma.

Berbagai pengalaman suka dan duka telah ia alami sejak berlayar setahun silam. Apalagi, dari 23 anak buah kapal (ABK) dibawah bendera Altus Anglo Eastern itu, Fatma adalah satu-satunya perempuan disana. Sedang ABK lain laki-laki termasuk mereka yang berkewarganegaaan India dan Srilanka.

“Pengalaman terburuk saat berlayar adalah saat menghadapi ganasnya ombak di Laut China Selatan saat akhir tahun mulai Oktober-Desember lalu. Saat itu, potensi topan dan ombak besar bahkan sampai 9 meter bisa menghadap sewaktu-waktu. Saat itu, batas antara hidup dan mati sangat tipis. Saat itu pula kita sadar akan kebesaran Allah Swt,” kenang Patma.

“Tapi itulah ujian yang sesungguhnya sebagai calon pelaut. Semua pelaut pasti menghadapi resiko yang sama. Ombak dan badai, menjadi makanan sehari-hari bagi seorang pelaut. Justru disana tantangan itu harus dihadapi,” papar putri pasangan M.Yusuf-Ny.Rosi itu.

Kodrat Seorang Wanita

Jika Tuhan mengizinkan dan proses penulisan skripsinya lancar, dalam kurun enam buan mendatang akan siap dilantik sebagai pelaut. “Waktu-waktu mendatang, harus fokus dan menyelesaikan program pendidikan di kampus STIP. Skripsi harus selesai tepat waktu dan selanjutnya bisa berlayar ke laut lepas,” papar Patma.

“Kalau cita-cita saya, inginnya berlayar di kapal asing. Saat usai magang, pelayaran asal Hongkong itu juga menawari untuk bergabung. Paling tidak saya ingin berlayar sampai ANT II. Setelah itu baru turun dan mencari pekerjaan di darat,” sambung Patma.

IMG_20150313_172904_edit

Soal profesi apa dan instansi mana yang akan dipilih, Fatma belum bisa menjawab. “Selagi muda, saya harus berlayar dan mencari pengalaman dulu sebanyak-banyaknya. Kendati begitu tak boleh melupakan kodrat saya sebagai wanita. Pada saatnya nanti, harus turun kapal dan hidup berkeluarga seperti wanita kebanyakan,” katanya sambil tersenyum.

“Tapi kalau pekerjaan di darat, saya pikir banyak juga. Profesi pelaut masih banyak dibutuhkan, baik di pemerintah atau BUMN seperti Pelindo, Pertamina, Pelni dan lainnya. Selama kita professional, saya yakin akan tetap diterima kerja di darat,” cetus Patma optimistis.

Keluarga Pelaut

Fatma awalnya tidak bercita-cita menjadi pelaut. Saat belajar di SMA 114, Kebantenan, Jakarta Utara angan-angan pun belum ada dibenak saya untuk berlayar dan menjadi pelaut. Yang penting, bagaimana belajar dan sekolah yang baik.

“Saat itu dari pihak sekolah lebih banyak mengarahkan para siswanya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi umum seperti UI, ITB, UGM dan lainnya,” aku anak bontot dari tiga bersaudara itu.

Dia mengaku tertarik dan mau masuk STIP justru karena bimbingan dan arahan ayahnya yang memang seorang pelaut.

“Pelaut itu profesi langka. Tapi peluangnya sangat besar untuk sukses meski kamu seorang wanita. Kamu bisa membuka wawasan dan mengarungi luasnya lautan dan berkeliling dunia. Disana juga menjanjikan kesejahteraan yang lebih. Apalagi jika kamu berlayar di kapal-kapal asing,” begitu wejangan dari ayahnya, M.Yusuf.

Dara cantik berdarah Bugis itu terlahir dari keluarga pelaut. Sang ayah M.Yusuf adalah palut senior di kapal Navigasi Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Hampir seluruh hidupnya habis di laut.

“Meski berlayar di dalam negeri, sekali melaut ayah sampai tiga bulan baru pulang. Sejak kecil sudah biasa ditinggal ayah saat berlayar. Sebagai pelaut kapal navigasi, ayah harus berlayar mengantar logistik dan petugas Kemenhub yang berjaga di Menara Suar. Ia pun harus keliling Indonesia untuk menjalankan tugas mengantar logistik ke daerah perbatasan Indonesia itu,” papar Patma.

Berkat bimbingan orang tua terutama sang ayah, ia pun sukses masuk STIP. Selama belajar di kampus akhirnya memperkuat tekad saya untuk menjadi pelaut. ”Sekali berlayar, pantang pulang sebelum berhasil. Saya harus mandiri dan bebas dari beban orang tua. Bila perlu, harus membantu meringankan beban orang tua dan keluarga,” urainya optimistis.

“Kalau orang lain, bisa mengapa saya tidak? Saya bertekad, untuk sukses menjadi pelaut. Bila mungkin sampai menjadi master. Meski prosesnya berat dan panjang, tapi bukan berarti wanita tak bisa meraih master. Saya akan buktikan wanita Indonesia juga bisa berprestasi,” tegas Patma.(helmi)