Angkasa Pura 2

ESDM: Pemerintah Berharap Swasta Mau Bangun SPBG

Energi KoridorKamis, 19 Maret 2015
Sebuah angkot melintas di depan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jalan MA Salmun, Kota Bogor, Jabar, Selasa (2/9)

JAKARTA (beritatrans.com) -Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan program diversifikasi penggunaan gas guna menekan laju konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang makin tinggi. Ketergantungan masyarakat pada BBM harus dikurangi, caranya dengan menambahkan pasokan dan infrastruktur untuk BBG.

“Namun, jika hanya dari pemerintah saja sulit menjalankan program diversifikasi tersebut,” kata Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja di Jakarta, Kamis (19/3/2015).

Dia mengungkapkan pemerintah ingin menambah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Untuk itu pemerintah berharap dari pihak swasta untuk mau ikut membangun SPBG yang ada. “Kita berharap investor swasta masuk, perkembangan jumlah SPBG lebih cepat lagi,” ujar Wiratmaja.

Hal yang dilakukan pemerintah mendorong pihak swasta ikut membangun SPBG adalah menyiapkan anggaran dan infrastruktur. Selain itu pemerintah juga berkoordinasi untuk memberikan insentif tambahan bagi pihak swasta yang mau berinvestasi bangun SPBG.

“Proses Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) sudah siap, dari segi infrastruktur dengan juga siap dengan APBN cukup besar,” jelas Wiratmaja seperti dikutip tribunnews.com.

Wiratmaja mengungkapkan saat ini baru dua perusahaan yang membangun SPBG, yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Dalam tahun ini pemerintah menargetkan akan membangun 22 SPBG. “Kita targetkan membangun 22 SPBG,” katanya.

Wiratmaja menambahkan, dengan menjual Chemical Natural Gas (CNG), investor swasta pasti senang. Pasalnya selain harganya murah, kualitas CNG juga jauh lebih baik daripada BBM.

“Ada satu hal di satu sisi harga CNG ini sangat murah Rp 3.100 per liter, untuk konsumen sangat senang, setengahnya dari BBM lebih bersih, mesin lebih halus, harga lebih murah,” tegas Wiratmaja.(helmi/aw)

loading...