Angkasa Pura 2

Garuda Indonesia Bidik Pasar Wisatawan Eropa

Destinasi KokpitMinggu, 22 Maret 2015
Garuda

JAKARTA (beritatrans.com) -PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melirik pasar Eropa untuk membuka rute-rute baru terkait pembebasan visa 30 negara di seluruh dunia untuk kunjungan singkat ke Indonesia. Kebijakan itu membuka peluang untuk menarik wisatawan yang lebih besar ke Tanah Air.

Negara-negara Eropa yang dijadikan prioritas, di antaranya Inggris, Belanda, Prancis dan Jerman. “Kita sedang melakukan studi di negara prioritas, selama ini kita sudah mulai di Inggris dan Belanda nanti kita akan pertimbangkan Prancis dan Jerman,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo seusai konferensi pers yang bertajuk “Analyst Meeting” di Jakarta, Jumat, (20/3/2015).

Menurut Arif, pasar Eropa sangat potensial karena rata-rata tingkat keterisian (load factor) 80 persen, karena itu pihaknya juga akan menambah frekuensi. “Dari empat (hari dalam seminggu), menjadi lima kemudian menjadi ‘daily’ (harian). Kita akan pertimbangkan beberapa kota baru, seperti Paris, dan Eropa Timur,” katanya.

Mantan Direktur Utama Maskapai Citilink itu menuturkan, faktor pendukung lainnya dalam rencana pembukaan rute ke Eropa, yakni maskapai Garuda diminati wisatawan asing.
“Ternyata yang naik Garuda itu rata-rata orang asing, berarti sangat ‘acceptable’ (dapat diterima) di internasional,” jelas Arif.

Namun, Arif menilai yang masih menjadi kendala saat ini adalah terkait berat maksimum lepas landas (maximum take off weight/ MTOW) pesawat Boeing 777 yang belum sesuai, yakni penerbangan langsung ke Eropa maksimal MTOW 336 ton, sementara Garuda masih di angka 351 ton.

“Jadi enggak bisa full karena kita masih ada pembatasan di bawah MTOW itu,” katanya.
Dia menambahkan pihaknya menyambut positif pembebasan visa 30 negara tersebut karena bisa meningkatkan jumlah penumpang, terutama untuk kegiatan rekreasi “leisure”.

Dia menargetkan dengan pembebasan visa 30 negara tersebut, penerbangan internasional diharapkan meningkat 10 persen dari yang saat ini sudah menyumbang 35 persen.

“Pembebasan visa insentif yang bagus buat kita, juga untuk mendatangkan devisa karena rupiah turut menguat,” tegas Arif.(helmi/awe).

loading...