Angkasa Pura 2

YLKI: Pelayanan di Jalan Tol Masih Di Bawah SPM

KoridorSenin, 23 Maret 2015
IMG_20150323_123932_edit

JAKARTA (beritatrans.com)- Kemacetan di jalan Tol Dalam Kota Jakarta termasuk Tol JORR, Tol Wiyonono Wiyoto dan Tol Sedytamo hampir terjadi sepanjang hari. Hampir tiada hari tanpa kemacetan, meski konsumen harus membayar dengan jumlah tertentu.

Ironisnya, pelayanan pengelola jalan tol yang buruh jauh di bawah standard pelayanan minimum (SPM) justru akan dikenakan pajak pertambahan nilai (PPn) 10% mulai April 2015.

Pantauan beritatrans.com, Senin (23/3/2015) siang, di ruas tol JORR menuju persimpangan ke Cikampek dan Bandung macet parah. Hampir seluruh badan jalan dipenuhi truk angkutan berat dari arah Pelabuhan Tanjung Priok.

Kasus serupa juga terjadi menjelang Simpang Susun Cawang, Jakarta Timur. Antrean kendaraan sudah mengular sejak exit tol Pondok Gede Barat menuju Cawang.

“Kondisi serupa selalu terjadi senjang waktu. Sebaliknya, di sore hari kemacetan parah terjadi di pintu keluar dari arah Jakarta, termasuk Cawang,” kata Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi saat dikonfirmasi beritatrans.com, Senin.

Dalam kondisi buruk tersebut, menurut YLKI operator jalan tol belum layak mendapatkan izin menaikkan tarif jalan tol. Pelayanan operator jalan tol masih jauh dibawah SPM yang ditentukan. “Parahnya lagi, pemerintah justru akan mengenakan PPN 10%,” sebut Tulus Abadi.

Oleh karena itu, YLKI menolak kenaikan tarif jalan tol secara berkala, selama SPM jalan tol belum dipenuhi. “Penuhi dulu kewajiban operator jalan tol. Baru mengusulkan kenaikan tarif berkala,” kilah Tulus.

YLKI juga mengkritik kebijakan memungut PPn jalan tol di tengah kondisi pelayanan yang buruk tersebut.

“Kebijakan PPN 10% sangat memberatkan masyarakat. Akumulasi pungutan PPN itu akan dibebankan pada masyarakat sebagai konsumen juga,” kilah Tulus.

“Jika kondisi pelayanan di jalan tol masih buruk, ditambah PPN 10%, maka justru akan menambah berat biaya logistik di Indonesia,” tandas Tulus.(helmi).

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari