Angkasa Pura 2

Proyek Infrastruktur Jokowi-JK Berpotensi Perlemah Kurs Rupiah

Bandara DermagaKamis, 26 Maret 2015
bambang_sudibyo

JAKARTA (beritatrans.com) -Proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah berpotensi memperlemah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Apalagi, proyek infrastruktur tersebut masih banyak menggunakan komponen impor.

“Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS masih akan berlangsung lama. Sulit diprediksi kapan akan berakhir dan menguat,” kata mantan Menteri Keuangan Bambang Sudibyo dalam Silaturahmi Tokoh Nasional. Ke-7 di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Kamis (26/3/2015).

Menurutnya, pelemahan kurs rupiah terjadi karena masih tingginya kebutuhan akan dolar AS. “Bisa karena kebutuhan untuk impor barang modal atau bahan baku. Atau karena kebutuhan untuk membayar utang luar negeri,” jelas Bambang.

Dikatakan, terlalu ngototnya Pemerintahan Jokowi-JK untuk membangun infrastruktur akan menambah beban Indonesia yang berujung pada pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS.

“Diakui atau tidak, komponen impor dalam proyek infrastruktur sangat besar. Oleh karena itu, hampir bisa dipastikan butuh dolar AS dalam jumlah besar dan itu akan menekan nilai tukar rupiah,” papar Guru Besar FEB UGM itu.

Seperti diketahui, Pemerintah Jokowi-JK dalam lima tahun ke depan akan membangun 25 pelabuhan international dan 15 bandara baru. Selain itu, Pemerintah melalui Kemenhub juga akan membangun ratusan kapal patroli, kapal navigasi dan kapal perintis.

“Selama proyek infrastruktur itu masih butuh komponen impor tinggi, maka akan menekan nilai tukar rupiah. Masalah ini yang perlu diantisipasi Pemerintahan Jokowi-JK,” tandas Bambang.

Sebelumnya, politisi senior Akbar Tanjung mencemaskan, pelemahan kurs rupiah belakangan. “Kurs rupiah terus melemah dan itu mengkhawatirkan kita. Selain menguras devisa juga merepresentasikan lemahnya kepercayaan asing dan dunia usaha pada Indonesia,” kata Akbar.

“Jika kurs rupiah terus melemah dan ekonomi rakyat makin lemah pula. Bukan tidak mungkin bisa berkembang ke krisis politik dan krisis multidimensi yang merugikan kita sebagai bangsa,” tegas Akbar.(helmi)

loading...