Angkasa Pura 2

Taruna STIP Anugerah Prawimanto Ikut Berlayar Telusuri Teluk Rawan Perompak

Figur SDMKamis, 26 Maret 2015
IMG_20150324_141924_edit_edit_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Anugerah Prawimanto satu taruna di balik sukses perayaan Pekan Maulid Nabi Saw Tahun 1436 H di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.

Bersama Bunyamin Nikmatullah Hamid, taruna smester VIII atau angkatan 54 STIP berhasil menggerakkan dan mengorganisir sesama taruna muslim menggelar acara tersebut.

Duo aktivis Pusat Kerohanian Islam (Rohis) STIP Jakarta hampir selalu aktif di kegiatan keagamaan di Kampus STIP. Setelah praktek laut (prala) selama setahun berlayar, Anugerah berinisiatif menggelar perhelatan menyambut Pekan Maulid Nabi SAW sekaligus rangkaian perayaan Dies Natalis STIP ke-58 tahun 2015 ini.

Anugerah memang bercita-cita menjadi pelaut. Setalah lulus SMA, ia ikut seleksi masuk taruna STIP dan mengambil jurusan nautika. “Meski bukan dari keluarga pelaut, tapi saya ingin menjadi pelaut. Profesi ini cukup menantang sekaligus uji kemampuan dan profesionalisme. Kalau ada penghasilan lebih sebagai pelaut, itu hanya dampak ikutannya,” katanya mengawali cerita pada beritatrans.com di Jakarta, Selasa (24/3/2015).

Anugerah tertarik masuk STIP datang dari pamannya. Dia alumni STIP dulu AIP yang sekarang bergabung di PT Pusri Palembang Sumatera Selatan. “Setelah mengikui seleksi di STIP dan lulus mengambil jurusan nautika. Sejak awal memang saya ingin menjadi pelaut. Tekad itu makin kuat setelah belajar di STIP dan akhirnya harus naik kapal,” jelas dia.

Saat pralaut (prala), dia bergabung di perusaahaan pelayaran yang berbasis di Korea Selatan dan German. Ikut kapal kargo dengan pangsa muatan mobil. “Hampir seluruh dunia pernah saya singgahi dalam pelayaran selama satu tahun. Kecuali Indonesia dan Australia, karena kapal kami tak masuk ke Indonesia,” papar Anugerah.

IMG_20150324_165915_edit

Dalam kapal tersebut, ada 22 anak buah kapal (ABK) yanag rata-rata orang asing, termasuk nakhoda dari Rusia. Meski ada senior alumni STIP, tapi praktis harus menguasai Bahasa Inggris. “Itulah pelayaran pertama keluar negeri. Berlayar dan kerja di kapal itu asik. Dan, saya mampu menyelesaikan prala sampai setahun baru kembali,” urai Anugerah.

Berbagai suka duka dan beratnya tantangan di kapal dijalani. Selama setahun berlayar, tantangan terberat saat berlayar di Eropa, antara Spanyol dan Perancis. Selain cuaca dingin, saat itu ombak tinggi sampai 12 meter. Termasuk saat melintasi Teluk Eden, daerah paling rawan perompak laut Somalia itu.

“Tinggi ombak di Eropa saat itu hampir melewati deck kapal. Untung, kapal besar dan mampu mengangkut sampai 500 mobil. Jadi stabilitas dan laju kapal cukup bagus, meski dihantam ombak. Di tengah ombak dan badai besar itu kapal masih bisa melaju sampai 6-7 knot. Dalam kondisi stabil dan ombak bersahabat kecepatan kapal sampai 20 knot. Cepat sekali untuk ukuran kapal kargo,” urai Anugerah.

Dengan belayar dan singgah di berbagai negara, praktis akan memperluas pengalaman dan pergaulan. “Jika lulus kelak, inginnya berlayar di kapal asing dulu. Kebetulan, perusahaan asal Korsel tempat magang itu membuka peluang untuk bergabung. Kini masih proses penjajakan dan kelengkapan administrasi sebelum resmi bergabung,” papar Anugerah.

Alumni STIP memang boleh bergabung ke pelayaran asing. Apalagim yang tak masuk program officer plus. Setelah lulus dari STIP, bebas bekerja dan bergabung dimanapun.

“Justru di kapal asing, saya bisa terus mengembangkan karier. Selain itu juga membawa nama almamater serta bangsa dan negara Indonesia ke seluruh dunia. Tantangan bagi kita untuk membuktikan, pelaut Indonesia khususnya dari STIP bahwa kita mampu bersaing di dunia internasional,” cetusnya.

“Saya inginnya sampai ke taraf master atau nakhoda. Sambil bekerja dan berlayar, kita bisa kembali belajar dan masuk kampus lagi. Paling tidak, setela berlayar dua tahun bisa belajar untuk menuju karier yang lebih tinggi. Jika kita mau, saya yakin bisa mencapai semua itu,” kata Anugerah opimistis.

“Kalau sudah cukup berlayar dan modal cukup, bisa saya kerja di darat. Jika kita profesional, dimanapun bisa akan diteriam di tempat kerja. Tantangan bagi kita untuk senantiasa bekerja dengan prestasi yag terbaik itu,” tegas Anugerah lagi.(helmi)