Angkasa Pura 2

Tommy Ketuk Hati Pengusaha Pelayaran

Beri Kesempatan Kadet untuk Ikut Berlayar di Kapal

Dermaga SDMSabtu, 28 Maret 2015
taruna stip

JAKARTA (beritatrans.com) – Pemerintah mengetuk hati dan kepedulian dunia usaha nasional khususnya perusahaan pelayaran di Tanah Air. Mereka diminta membantu pendidikan khususnya taruna sekolah pelayaran di Indonesia. “Indonesia butuh ribuan pelaut setiap tahun. Ini tugas dan tanggung jawab kita semua, tak cukup hanya dikerjakan oleh pemerintah,” kata Kepala Badan Pengembangan SDM (BPSDM) Perhubungan Wahju Satrio Utomo pada beritatrans.com di Jakarta, Jumat (27/3/2015) petang.

Menurutnya, caranya mudah dan tak harus mengeluarkan biaya besar. Tapi dampaknya sangat besar bagi taruna khususnya dari sekolah-sekolah swasta. “Cukup memberikan space dan kesempatan bagi kadet atau taruna pelayaran untuk ikut berlatih berlayar (prala) di kapal-kapal milik perusahaan nasional. Dengan begitu, kesempatan bagi taruna untuk ikut prala makin besar. Jadi, mereka tak harus pergi keluar negeri yang lebih mahal biayanya,” kata Tommy lagi.

Data Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat ini tercatat ada sekitar 13.000 kapal niaga berbendera Indonesia. “Jika masing-masing menampung dua taruna ikut prala, maka akan menampung sampi 26.000 taruna untuk prala. Jumlah yang signifikan dan bisa menghemat devisa cukup besar,” kilah Tommy.

Dalam kurikulum sekolah pelaut, mereka harus praktek laut. Untuk program prala inilah yang masih sering menjadi kendala. “Sejauh ini masih ada perusahaan pelayaran nasional yang keberatan atau tidak menerima taruna praktek berlayar di kapalnya. Sementara, belum semua sekolaha mempunyai fasilitas cukup apalagi kapal latih bagi taruna,” jelas Tommy.

Dengan memberikan kesempatan ikut prala itu, lanjut Tommy, maka akan meningkatkan kemampuan dan profesionalisme pelaut-pelaut muda di Tanah Air. “Jika mereka sudah lulus dan masuk ke dunia kerja, maka perusahaan pelayaran nasional ikut menikmati hasilnya. Mereka itu akan menjadi pengguna para lulusan kita dan sekolah pelaut lain di Tanah Air,” papar mantan Staf Ahli Menhub itu.

Diakui Tommy, untuk sekolah-sekolah BPSDM Perhubungan seperti Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta misalnya, mereka tak terlalu sulit untuk ikut prala. Beberapa taruna justru sudah dipesan perusahaan pelayaran asing untuk magang atau prala di kapalnya. “Mereka memperoleh kesempatan untuk berlayar di dunia, bahkan sudah dibayar rata-rata US$500 per orang per bulan. Tapi tidak semua sekolah pelaut Indonesia bisa bernasib baik seperti STIP,” kilah dia.

“Saat ini ada puluhan sekolaha pelaut baik di tingkat SLTA atau perguruan tinggi. Mereka mempunyai program sama, yaitu praktek laut bagi siswa atau tarunanya. Sementara, belum semua sekolah mendapat kesempatan sama untuk ikut prala. Mereka itulah yang harus dibantu,” terang Tommy.

taruna stip

Praktek lapangan khususnya prala akan sangat menentukan kualitas calon pelaut itu sendiri. Semakin banyak kesempatan berlayar, makin lengkap pula pengalaman seorang pelaut. Sementara, Indonesia membutuhkan pelaut dalam jumlah besar dan kualitas prima.

“Mereka harus terampil dan cekat, sekaligus memunyai sikap dan perilaku terpuji. Taruna calon peluat minimal harus memiliki tiga kompetensi dasar, yaitu sehat fisiknya, profesional kerjanya dan beretika yang baik. Semua itu hanya akan bia diujudkan jika ada kesempatan untuk berlatih nak kapal dan berlayar dengan baik pula,” tandas Tommy.

Menhub Ignasius Jonan dalam kunjungan ke Kampus STIP beberapa waktu lalu mengatakan, pihaknya akan berkirim surat ke perusahaan pelayaran nasional untuk membantu dan ikut berkontribusi dalam pembangunan SDM khususnya pelaut di Indonesia.

“Sesuai amanat UU No.17/2008 tentang Pelayaran, perusahaan pelayaran juga harus berkontribusi dalam pendidikan pelaut. Kita akan minta mereka bisa berkontribusi sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing. Salah satunya ikut memberikan kesempatan untuk kadet ikut berlayar di kapal-kapal miliknya,” kata Jonan.

“Kebutuhan pelaut di Indonesia perlahan harus dipenuhi dengan kualitas yang main baik dan profesional. Mereka butuh sarana dan alat diklat yang cukup. Bisa dalam bentuk simulator yang terus di-up date. Oleh karena itu, kebutuhan taruna untuk latihan berlayar atau prala harus dibantu. Mereka memberikan kesempatan prala bagi para taruna pelayaran di Indonesia. Dengan begitu, kualitas pelaut Indonesia makin baik dan siap bersainga di era global,” tegas Jonan.(helmi)

loading...
  • Khair Uddin

    Tolong lah pak mentri diperhatikan taruna yang belum dapat kapal untuk prola terutama sekolah swasta sangat sulit, saya sendiri merasakan susahnya, padahal cv sudah di sebar tetapi belum ada panggilan, sementara kita nganggur sampai berbulan bulan lamanya bahkan ada yang sampai 1tahun teman kita. Sungguh menyedihkan kapan kami lulus dan bekerja? Waktu dan biaya banyak terbuang pada saat kita ingin prola

  • bahar

    Sy butuh kapal untuk prola tolong hub 085255115569

  • Endy Frando Simbolon

    Saya juga butuh untuk kapal prala, saya jurusan mesin dari STIMar “AMI” JAKARTA.
    Jika senior2 dapat membantu saya bisa menghubungi nomor saya 081317480900.
    Terimakasih

  • Supryady Pangestu

    Saya juga lagi butuh kapal, dari SPM malahayati ,jurusan nautika.
    Jika ada seniorĀ² yang mau membantu saya mencari kapal untuk prala,bisa hubungi saya 081280643585 .
    Sekali lagi terima kasih jika ada yang mau membantu saya.