Angkasa Pura 2

Capt. Ariandy: Alumni STIP Sukses di Kapal LNG

Figur SDMSabtu, 28 Maret 2015
IMG_20150325_143819_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Pelaut alumni Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta sudah melanglang buana ke seluruh Indonesia. Kini, banyak palaut mengimpikan untuk ikut berlayar bahkan menjadi nakhoda atau capten di Kapal LNG (liquide natural gas).

“Grade kapal itu paling tinggi, persyaratan berat dan tentunya gajinya juga menjanjikan,” kata Kabag TU dan Humas STIP Jakata, Capt.Ariandy Syamsul pada beritatrans.com di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, memang ada puluhan ribuan pelaut Indonesia bekerja di kapal asing. Termasuk di kapal-kapal LNG yang dikenal paling berat syarat dan sertifikasinya. Selama ini, paling banyak kapal tersebut dipimpin nakhoda dari Jepang atau Rusia serta Eropa.

“Kini sudah ada alumni STIP suskes disana. Ada teman angkatan 39 STIP sudah sukses menjadi nakhoda di Kapal LNG. Artinya, kualitas pelaut Indonesia tak kalah dari negara lain. Termasuk alumni STIP Jakarta makin banyak yang sukses di kapal asing,” jelas Ariandy.

Berkarier di kapal sampai menjadi nakhoda bukan perkara mudah. selain harus bersaing dengan pelaut lain, mereka juga harus menenuhi syarat teknis dan pendidikan yang telah ditentukan sesuai ketentuan International Maritime Organization (IMO).

“Kalau alumni STIP dan sederajat, paling cepat butuh waktu 5-10 tahun untuk menjadi nakhoda. Mereka harus berlayar minimal dua tahun sebelum sekolah lagi, dan seterusnya. Jadi, untuk menjadi nakhoda setelah ketrampilan praktis di kapal, pendidikan formal kepelautan juga harus dipenuhi. Ini persyaratan international. Jadi, antara satu nakhoda dengan lainnya rata-rata sama,” jelas Ariandy.

Tantangan bagi pelaut Indonesia mendatang, termasuk alumni STIP, menutut Ariandy, bagaimana mampu bekerja profesional dan memenuhi syarat pendidikan formal yang ditentukan IMO. “Memang banyak kendala untuk bisa bekeja dan kembali sekolah lagi. Tapi, jika mau semua itu bisa dilakukan,” papar Dosen STIP itu.

Dia menambahkan, gaji dan kesejahteraan pelaut apalagi yang berlayar di kapal asing lebih tinggi dibanding profesi lainya. Untuk nakhoka di kapal asing, bisa menerima bayaran sampai US$6.000 per bulan. Untuk kapal tertentu, bayaran ABK justru dihargai per jam. “Jika mau, uang hasl berlayar bisa ditabung untuk keluarga dan sebagian untuk biaya pendidikan lebih lanjut. Kini, semua kembali ke masing-masing orang. Yang pasti, profesi pelaut terbuka luas baik di Indonesia atau dunia. Mampu tidak pelaut kita memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan,” tegas Ariandy.(helmi)