Angkasa Pura 2

24 Begal Motor Tewas Dibakar Massa dan Ditembak Polisi Selama Januari – Maret 2015

Aksi PolisiRabu, 1 April 2015
begal

JAKARTA (beritatrans.com) – Aksi pembegalan kendaraan bermotor masih terus terjadi di berbagai daerah Indonesia, meski pelaku begal yang dikeroyok dan dibakar massa terus meningkat.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengemukakan kesulitan ekonomi dan sempitnya lapangan kerja tampaknya membuat berbagai pihak tetap nekat melakukan kejahatan begal, walau ancaman kematian akibat dikeroyok massa selalu di depan mata.

Selama tiga bulan terakhir, yakni dari Januari hingga Maret 2015 ada 20 begal yang dikeroyok dan dibakar massa. Dari jumlah itu 11 begal tewas dan 9 luka berat. Sebagian besar begal yang tewas dan luka mengalami luka parah di bagian kepala.

Jateng menjadi daerah paling rawan aksi pengeroyokan begal, yakni ada
5 kasus, yang 4 di antaranya terjadi di Sukoharjo. Jabar menduduki posisi kedua, dengan 4 kasus. Lampung dan Jakarta 2 kasus. Banten dan Sumsel 1 kasus.

Usia begal yang dikeroyok tergolong produktif. Usia 17 sampai 40 tahun
ada 15 orang, usia di atas 40 tahun ada 3 orang, dan usia 15 tahun ada
2 orang. Para begal ini tergolong sadis. Sebagian besar korban mereka
bacok dan tembak. Mungkin karena itu massa tak segan-segan mengeroyok
begal sampai mati.

Artinya, tindakan main hakim sendiri adalah wujud dari kekesalan masyarakat terhadap pelaku kriminal dan ketidakpuasan masyarakat terhadap proses hukum serta ketidakpercayaan pada aparat keamanan. Makin banyaknya aksi kejahatan tentu akan makin memicu aksi main hakim sendiri. Padahal aksi main hakim sendiri ini merupakan
tindak kriminal dan pelanggaran hukum.

Polisi sendiri sebenarnya sudah bekerja keras memberantas begal. Bahkan begal yang ditembak polisi cukup banyak. Lebih banyak dari yang dikeroyok massa. Dalam tiga bulan terakhir IPW mencatat, ada 43 begal yang ditembak polisi. Sebanyak 14 di antaranya tewas dan 29 luka.

Jakarta Barat menjadi kawasan yang paling banyak penembakan pada begal, yakni ada 18 orang. Urutan kedua Bekasi, ada 8 begal yang
ditembak, 6 di antaranya tewas.

Meski aksi pengeroyokan massa banyak terjadi dan polisi makin agresif
melakukan penembakan, aksi pembegalan masih saja marak. Dalam seminggu
terakhir misalnya, hampir setiap hari di berbagai daerah aksi pembegalan masih terjadi.

Sepertinya para begal belum juga jera.
Kesulitan ekonomi, apalagi setelah harga-harga kebutuhan tidak terkendali, menjadi salah satu faktor kejahatan jalanan kian marak. Agaknya pemerintahan Presiden Jokowi perlu mencermati fenomena ini.(aisha).

loading...