Angkasa Pura 2

Putra Papua Naik Kapal Pelni dari Kaimana Meraih Sarjana

Dermaga SDMRabu, 1 April 2015
hasan iha

BEKASI (beritatrans.com) – Perjuangan keras Hasan Iha menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi berbuah manis. Salah satu putera asli Papua, yang merantau ke Bekasi dengan hanya berbekal selembar ijazah SMA, itu akhirnya menyandang gelar sarjana.

Hasan Iha menjadi salah satu dari ratusan sarjana, yang diwisuda oleh Rektor Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, DR. Ir. Nandang Najmulmunir, MS, di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta Timur, Rabu (1/4/2015).

Tahun 2006, dia meninggalkan tanah Kaimana, Papua Barat. Naik kapal Pelni KM Bukit Siguntang, dia bertekad sampai di Jakarta. Setelah seminggu perjalanan di laut, akhirnya lelaki itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Waktu itu kepergian saya difasilitasi oleh Yayasan Alfatih Kaffah Nusantara yang dipimpin oleh ustadz KH Fadlan Garamathan,” ungkapnya kepada bekasibusiness.com.

Dari Tanjung Priok, dia bersama dua kawan lainnya dibawa oleh ustadz KH Fadlan Garamathan ke Kompleks Pondok Hijau Permai, Kelurahan Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi. Dia tak lantas didaftarkan di perguruan tinggi, tetapi mengikuti pesantren tahfiz Alquran.

Seiringan dengan perjalanan waktu, akhirnya dia masuk menjadi mahasiswa Unisma, dengan biaya sepenuhnya dari Yayasan Alfatih Kaffah Nusantara. Yayasan ini memang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan untuk anak-anak Papua.

Di universitas di Jalan Cut Meutia, Kelurahan Bekasi Timur, Kota Bekasi, tersebut, Hasan Iha terdaftar sebagai sebagai mahasiswa di jurusan Syariah, Fakultas Agama Islam.

Hasan memang tipikal mahasiswa yang berani memilih hidup prihatin sekaligus berjuang keras untuk mengatasinya. Salah satu cara yang ditempuh dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari adalah menjadi marbot atau petugas kebersihan di Masjid Alfatah di RW 14, Kompleks Pondok Hijau Permai.

Atas bantuan dari Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Alfatah, Husfani Nurman Anky, dia diperkenankan untuk tinggal di areal masjid. Hanya saja, Hasan diberi syarat berupa tugas tambahan yakni menjadi muazin (orang yang mengumandangkan azan). Pekerjaan itu dijalani Hasan dengan senang hati, apalagi ada honor cukup lumayan untuk dia membeli makanan pengganjal perut.

Suaranya yang khas ketika azan, memang sering membuat hati pendengarnya begitu terenyuh. “Kalau Hasan azan, subhanallah merdu sekali. Mungkin seperti itu suara Bilal waktu zaman Rasululullah SAW,” ujar Nurman Anky.

Tak hanya menjadi muazin dan marbot masjid, Hasan Iha juga menyambi kerja sebagai petugas di kantor PT MD9, penerbit dari bekasibusiness.com, beritatrans.com dan tabloid mingguan Berita Trans. Keinginan untuk cerdas dalam diri Hasan memang dahsyat. Dia bahkan menyempatkan bekerja sambil mempelajari teknik layout suratkabar dan tabloid di komputer. “Semuanya saya lakukan karena niatnya ibadah kepada Allah SWT. Itu saja,” cetusnya.

Perjuangan Hasan mencapai puncaknya. Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) diraihnya. Tuntasnya menyelesaikan pendidikan tersebut mengakhiri masa perjuangannya di tanah Jawa. Dia akan segera kembali. Tidak ke Papua, tetapi ke Bau Bau, Buton, Sulawesi Tenggara. Dia berharap mendapatkan kerja di sana.

Selamat berjuang, Hasan. Semoga Allah SWT memudahkan langkahmu dan meninggikan derajatmu. Kami rindu mendengar lagi azan yang begitu syahdu kamu lantunkan di Masjid Alfatah.