Angkasa Pura 2

Rakyat Susah Sekolah, Pejabat Dapat Uang Muka Kendaraan

KoridorKamis, 2 April 2015
Menkeu Bambangg

JAKARTA (beritatrans.com) – Kementerian Keuangan kembali membuat heboh. Kebijakan yang dibuat tak pro rakyat bahkan, cenderung boros di tengah kondisi masyarakat yang masih sulit. Pantaskah semua itu, sementara masih banyak rakyat kecil yang hidup miskin dan anak-anaknya tak sekolah.

Itu adalah perihal uang muda kendaraan para pejabatnya yang dinaikkan menjadi Rp210,9 juta per unit. Sementara, mereka sudah menerima remunerasi penuh dan menerima gaji serta tunjangan lebih tinggi dibandingkan karyawan kementerian/ lembaga negara yang lain.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Kamis (2/4/2015) tidak mengetahui adanya kenaikan tunjangan uang muka pembelian kendaraan pejabat negara yang naik. Padahal, nilainya cukup fantasttis.

Seperti diketahui, uang muka kendaraan pejabat menjadi Rp 210.890.000 dari sebelumnya Rp 116.650.000. “Saya engak tahu, saya belum dapat info soal itu, jadi saya belum bisa menjelaskan,” kata Bambang pada pers.

Adapun alasan kenaikan uang muka tersebut karena ketentuan sebelumnya tidak sesuai dengan peningkatan harga kendaraan bermotor.

Padahal, sebelumnya Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto mengungkapkan, bahwa hal tersebut akan lebih jelas ditanyakan ke Menteri Keuangan.

“Pertimbangan teknisnya, silahkan tanya ke Kementerian Keuangan yang dapat menjelaskan lebih baik,” ujar Andi seperi dikutip tribunnews.

Perpres nomor 39/2015 mengubah pasal 3 ayat 1 Perpres nomor 68/2010. Perpres nomor 68/2010 disebutkan bahwa Fasilitas uang muka diberikan kepada pejabat negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 sebesar Rp 116.650.000. Dalam Perpres Nomor 39/2015 diubah menjadi sebesar Rp 210.890.000.

Adapun lembaga negara yang dimaksud seperti tercantum dalam pasal 1 adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, hakim agung, hakim Mahkamah Konstitusi, anggota Badan Pemeriksa Keuangan, dan anggota Komisi Yudisial.(hel/awe)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari