Angkasa Pura 2

Mengenal Wisata Jalur Sutra Laksamana Cheng Ho

DestinasiKamis, 9 April 2015
Laksamana Cheng Ho

PALEMBANG (beritatrans.com) -Wisata jalur laut sutra napak tilas pelayaran samudra Laksamana Cheng Ho resmi jadi destinasi wisata baru terdiri dari sembilan serial mulai Aceh hingga Bali. Jalur pelayaran Cheng Ho ini dipromosikan menjadi paket wisata yangdisponsori Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan.

Peminat wisata Jalur Laut Sutra mengabadikan perjalanan di sembilan lokasi dengan berfoto pada objek berlatar belakang peninggalan atau bangunan yang khusus dibuat untuk mengenang perjalanan Laksamana Cheng Ho di Aceh, Batam, Palembang, Belitong, Jakarta, Semarang, Cirebon, Surabaya dan Bali.

Perjalanan wisata religi dan sejarah Jalur Laut Sutra menawarkan sensasi heroik dari seorang pelaut Muslim asal Tiongkok yang sedang melakukan misi dagang dan penyebaran Islam di Indonesia.

Di Aceh misalnya, terdapat Lonceng Cakra Donya yang tergantung di pintu masuk Museum Aceh. Lonceng raksasa berbentuk stupa dengan hiasan tulisan Arab juga China itu merupakan pemberian Kaisar Yongle yang dibawa ke Aceh oleh Laksamana Cheng Ho sekitar 1414 M.

Wisata jalur pelayaran Cheng Ho itu dirancang oleh Kementerian Pariwisata untuk menarik wisatawan asal Negeri Tiongkok datang ke Indonesia.

Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo berpendapat warga Tiongkok amat menghargai sejarah dan budayanya. Apalagi, Laksamana Cheng Ho sangat dihormati oleh warga Tiongkok.

Menteri Indroyono optimistis pembukaan tujuan wisata baru jalur samudra Cheng Ho ini mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, terutama wisman dari Tiongkok.

“Ini menjadi modal penting terutama menarik wisatawan Tiongkok. Wisatawan Tiongkok menghormati akar dan jejak budaya, ini menjadi peluang Indonesia dengan jalur samudra Cheng Ho,” kata Menteri pada peluncuran wisata jalur sutra, akhir Februari lalu.

Pariwisata berbasis sejarah maritim memang baru, namun perlu didukung. Apalagi Pemerintahan Presiden Joko Widodo memiliki semangat kebaharian yang tinggi, mengingat sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari laut.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, sumbangan pariwisata maritim baru 10 persen dari total pariwisata di seluruh Indonesia. Angka ini sangat kecil dibandingkan Malaysia yang memiliki wilayah laut lebih sedikit namun pariwisata maritimnya menyumbangkan 40 persen dalam total pariwisata.

Menteri mengatakan peluang menggaet wisman asal Tiongkok amat besar.
Data Kementerian Pariwisata mencatat terdapat 100 juta warga Tiongkok yang bepergian untuk berwisata, namun hanya satu persennya yang singgah ke Indonesia.

“Kami yakini banyak turis dari Tiongkok. Untuk outbond ada 100 juta warga Tiongkok, tapi yang datang ke Indonesia hanya satu juta orang. Bandingkan dengan yang ke Thailand sebanyak lima juta orang,” kata dia.

Garap Sungai Musi

PT Pengembang Pariwisata Indonesia Persero/ITDC membidik kawasan Sungai Musi Palembang, untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata satu kawasan seperti yang ada di Nusa Dua Bali dan Mandalika Lombok.

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Investasi dan Pembangunan Pemerintah Kota setempat, Sudirman Teguh di Palembang, Kamis, mengatakan perusahaan milik negara ini berencana membangun beberapa hotel berbintang di kawasan Seberang Ulu hingga Pulau Kemaro yang terdiri atas 25-30 lantai.

“Perwakilan PT ITDC sudah dua kali datang ke Palembang, dan yang kedua diwakili langsung direktur operasional dan tim konsultan. Mereka benar-benar tertarik untuk mengembangkan pariwisata Palembang yang sudah mendunia,” kata Sudirman.

Ia menjelaskan, secara historis diketahui Palembang merupakan kota bersejarah bagi warga Tionghua karena ada kisah percintaan yang abadi antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Kemudian menjadi jalur perniagaan Laksamana Cheng Ho yang terbentang dari Aceh hingga Bali.

“Kisah-kisah ini sudah lama ada, dan ini suatu potensi yang luar biasa. Setiap tahun Pulau Kemaro selalu dikunjungi ribuan orang saat perayaan Imlek, belum lagi ribuan peziarah datang dari beberapa negara di Asia ke Masjid Ki Merogan dan Masjid Lawang Kidul,” kata dia.

Namun, ia menjelaskan, potensi pariwisata Kota Palembang itu belum tergarap maksimal karena tidak dikelola secara utuh terkait dengan tiga komponen dasarnya, yakni sumber daya manusia, regulasi dan infrastruktur.

Melalui ITDC ini, Pemerintah Kota Palembang berharap sektor pariwisata akan tumbuh dengan percepatan mengingat akan berperan sebagai tuan rumah Asian Games 2018.

“Untuk regulasi, pemerintah kota sudah ada keberpihakan karena sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi visi dan misi pembangunan kota ke depan, sementara untuk infrastruktur akan digenjot mulai tahun ini melalui kerja sama dengan pihak ketiga dengan format bagi hasil, BOT hingga penyertaan modal,” ujar dia.

Hanya saja, kendala yang akan dihadapi yakni mengubah cara pandang masyarakat mengenai sektor pariwisata karena sejak lama menggangap bidang ini kurang berpotensi menghasilkan uang.

“Budaya masyarakat Kota Palembang dalam melayani para pendatang, tentunya berbeda dengan kota lain seperti Yogyakarta dan Bali. Warga kita sendiri masih binggung ketika ada yang bertanya tempat wisata yang ada di Palembang, ini menjadi salah satu kekurangan mendasar,” kata dia.

Kota Palembang memiliki sejumlah potensi wisata, yakni wisata religi, wisata kuliner, wisata belanja, wisata sejarah/heritage.

Saat ini, wisatawan berkunjung ke Indonesia sekitar 35 persen tertarik terhadap faktor alam, seperti ekologi dan kelautan. Sekitar 60 persen tertarik kuliner, religi, dan sejarah, sementara peminat wisata buatan seperti pertunjukan dan beragam pameran hanya 5 persen.

Sementara ini, jumlah kunjungan wisatawan ke Sumsel sekitar 3 juta jiwa per tahun, sedangkan tahun ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel menargetkan meningkat pesat hingga menebus 5 juta orang.

Kini, saatnya bagi Sumatera Selatan meraih berkah dari sektor pariwisata setelah cukup dikenal di mancanegara karena perannya menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional.(hel/ant)