Angkasa Pura 2

Kenaikan Tarif KA Ekonomi Bukti Kegagalan Kemenhub

EmplasemenRabu, 15 April 2015
Tulus YLKI

JAKARTA (beritatrans.com) – Kenaikan tarif kereta api (KA) kelas ekonomi memang sangat memberatkan rakyat kecil. Pengguna KA ekonomi adalah orang kecil yang memang harus disubsidi. Semua itu merupakan indikasi lemahnya kemampuan lobby Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Menaikkan tarif KA ekonomi itu blunder serius. KA ekonomi itu kan hanya untuk mobilitas warga menengah ke bawah “mosok” dinaikkan,” kata Pengurus Harian. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi pada beritatrans.com di Jakarta, Rabu (15/4/2015).

Pemerintah termasuk Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) selalu berdalih, tarif KA terpaksa naik karena subsidi dalam bentuk public service obligation (PSO) turun. Paling tidak belum cukup memenuhi kebutuhan operasional angkutan massal itu.

Data Ditjen Perkeretaapian Kemenhub menyebutkan, PSO untuk KAI tahun 2015 mencapai angka Rp1,5 triliun. Jumlah itu naik dibandingkan realisasi PSO untuk KAI tahun 2014 yang kurang dari Rp1 triliun.

Anehnya, tarif KA ekonomi tetap naik bervariasi. Untuk jenis KA tertentu kenaikan tarif KA mencapai 100 persen lebih.

Menurut Tulus Pemerintah tak boleh begitu. “Pemerintah atau negara mempunyau kewajiban konstitusional untuk tetap memberikan subsidi pada rakyatnya yang miskin,” jelas dia.

Jika masalah subsidi kurang, papar Tulus, solusinya bukan hanya dengan menaikkan tarif. “Seharusnya Kang Jonan (Menhub-red) dan juga Dirjen Perkeretaapian Kemenhub) mempunyai bargaining position yang lebih kuat, dengan Kemenkeu untuk minta tambah subsidi dong,” cetus Tulus.

Kenaikan tarif KA ekonomi, mengindikasikan gagalnya lobby Kementerian Perhubungan khususnya Menhub Jonan dan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Hermanto.

“Jika bisa lobby dengan baik dan mampu meyakinkan KA ekonomi adalah angkutan massal yang layak disubsidi, akan lain jadinya,” terang Tulus.

Dia melalui YLKI sudah sejak lama mengkritik dan mengingatkan bahkan menolak rencana kenaikan tarif KA ekonomi baik jarak menengah atau jarak jauh.

“KA ekonomi itu penggunanya masyarakat menengah ke bawah. Di dunia ini rakyat miskin selalu disubsidi negara. Di Indonesia termasuk di era Pemerintahan Jokowi-JK subsidi untuk rakyat miskin justru dikurangi terus,” tandas Tulus.(helmi/awe)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari