Angkasa Pura 2

Said Didu: Pembubaran Petral Bukan Aksi Balas Dendam Menteri ESDM

FigurSabtu, 25 April 2015
Said didu2

JAKARTA (beritatrans.com) -Rencana pembubaran PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral), anak perusahaan PT Pertamina (Persero) bukan sebuah aksi balas dendam Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said. Rencana itu hanya kebetulan karena kewenangan untuk membubarkan ada di tangan Menteri BUMN Rini Soemarno.

“Soal isu balas dendam dari Menteri ESDM (Sudirman Said) tidak ada karena kewenangan pembubaran ada di Kementerian BUMN. Ini hanya kebetulan,” kata Staf khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Said Didu di Jakarta, Jumat (14/4/2015).

Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Said Didu mengatakan, pada kasus ini Kementerian ESDM hanya berkepentingan pada upaya peningkatan efisiensi dari pengadaan dan penjualan BBM, karena terkait dengan kinerja kementerian tersebut.

“Menteri ESDM menyambut baik rencana pembubaran Petral tersebut karena akan berdampak pada efisiensi BBM,” jelasnya.

“Tidak pernah sama sekali Pak Sudirman ikut-ikutan menghidupkan ISC, ini memang karena kebetulan saja. Jadi jangan ada yang beranggapan ini balas dendam,” tukas Said Didu saat dikonfirmasi beritatrans.com.

Dia menjelaskan, pembubaran Petral sebenarnya pernah dirancang pada 2006, dengan dibentuknya Integrated Supply Chain (ISC) di Pertamina atas kesepakatan dengan Kementerian BUMN untuk menggantikan peran Petral secara bertahap.

“Pimpinan ISC saat itu Pak Sudirman Said, berjalan sampai 2009. Tapi tahun itu distop dan Sudirman diberhentikan. Dia salah satu yg tergigit belut berbisa di kolam oli itu,” ujarnya.

Setelah ISC ditutup, Petral kembali beroperasi dengan normal, katanya. Dia berpendapat, ketika Presiden Joko Widodo mengangkat Sudirman Said sebagai Menteri ESDM, muncul pandangan bahwa pemerintahan saat ini memilih orang yang berani melawan mafia migas.

“Kekompakan Kementerian ESDM, BUMN, dan Pertamina untuk menghadapi ini cukup kuat. Jadi saya berharap bahwa ide pembubaran ini jangan sampai kembali menjadi sejarah lama, gaungnya besar tapi tidak terwujud,” tegas Said Didu.(helmi)