Angkasa Pura 2

Pembangunan Bandara Ahmad Yani Baru 12%

BandaraRabu, 29 April 2015
ceb7a531bea6a26a4f4206281b17d7d9

SEMARANG (beritatrana.com) – Pembangunan pengembangan Bandara Ahmad Yani Semarang untuk paket I hingga kini baru 12,5%. Padahal peletakan baru pertama (ground breaking) pembangunan bandara internasional itu sudah dilakukan pada medio 2014 lalu.

Pengerjaan paket pertama ini terkait dengan revitalisasi Bandara Ahmad Yani itu terdiri atas areal pemancangan, areal untuk akses jalan, dan areal parkir.

“Diharapkan tahapan-tahapan pengembangan bandara dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan,” kata General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani Semarang Priyo Jatmiko, seperti dikutip aindonews, kemarin.

Pengembangan dan perluasan bandara yang ada di Semarang Barat ini akan melalui empat tahap dengan kebutuhan investasi mencapai Rp1,56 triliun. Operasional bandara itu ditargetkan bisa dilakukan pada 2017.

Direktur Teknik PT Angkasa Pura I Polana Banguningsih Pramesti menambahkan, sesuai dengan rencana, pengembangan akan dibagi ke dalam empat paket.

Untuk paket pertama yaitu pematangan jalan dan jalan akses, kedua persiapan apron, ketiga pengembangan di gedung terminal, dan keempat adalah fokus di bangunan penunjang di antaranya kantor dan area parkir. “Harapannya bisa selesai sesuai dengan target,” ucapnya.

Menurut anggota Komisi V DPR Roem Kono, perbaikan Bandara Ahmad Yani merupakan tantangan Jateng dan Kota Semarang karena terletak di jantung dari salah satu provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia.

“Kami berharap dengan adanya perbaikan tersebut maka Ahmad Yani bisa menjadi ikon dari Kota Semarang,” katanya. Sekitar 25–50 tahun lagi pertumbuhan jumlah penduduk di Semarang pasti akan luar biasa. “Jangan sampai justru kita menjadi tertinggal dari sektor transportasinya,” ujar Roem.

Roem berharap tidak hanya memperbaiki Bandara Ahmad Yani, tetapi juga memperhatikan perawatannya. Hal itu penting karena memengaruhi citra bandara tersebut. “Kalau perawatan tidakdiperhatikan maka bandar udara bisa kehilangan citranya,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, pembangunan fisik paket I sempat molor. Lokasinya ternyata harus didesain ulang karena berdasarkan evaluasi atas hasil penyelidikan tanah, ditemukan adanya perbedaan lapisan tanah untuk pendukung konstruksi. (tiefa).