Angkasa Pura 2

BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Indonesia

Bandara Dermaga KokpitSelasa, 5 Mei 2015
Pesawat Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu  Hidayat

JAKARTA (beritatrans.com) -Memasuki bulan Mei 2015 posisi matahari berada di lintang utara khatulistiwa, sebagian besar wilayah Indonesai sedang mengalami musim transisi atau pancaroba.

“Karakteristik utama dari musim transisi adalah berkurangnya kejadian hujan dibandingkan dengan puncak musim hujan (Tes-Jan-FeB-). Tidak menutup kemungkinan bahwa selama musim transisi berlangsung potensi kejadian hujan dengan intensitas yang cukup tinggi dapat terjadi di beberapa wilayah Indonesia,” kata Drs. Mulyono R. Prabowo, M.Sc, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (5/5/2015).

“Dunia transportasi khususnya pelaku usaha penerbangan dan pelayaran di Tanah Air diminta Waspadai. Potensi terjadinya cuaca ekstrim cukup tinggi dan jangan sampai mengganggu keselamatan transportasi,” saran Mulyono.

Menurutnya, hal ini dapat terjadi karena pengaruh dinamika atmosfer yang signifikan baik dalam skala lokal maupun regional.

“Di beberapa wilayah Indonesia masih terjadi hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir yang dapat menyebabkan banjir dan longsor seperti terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Lombok,” kata Mulyono.

“Terbentukannya Siklon Tropis di wilayah Samudera Hindia sebelah selatan Indonesia, siklon tropis IKOLA yang terjadi pada awal bulan dan siklon tropis QUANG pada akhir bulan April, berdampak pada pembentukan kondisi cuaca yang signifikan di sekitar wilayah Indonesia terutama di bagian selatan ekuator,” jelas Mulyono lagi.

bobby dan kapal pelni

Dikatakan, pontensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang masih berpeluang terjadi di beberapa wilayah Indonesia bagian selatan, terutama pada siang hingga sore hari.

“Kondisi ini disebabkan Suhu Muka Laut yang cukup hangat berkisar antara 29.0 – 30.0 C di perairan timur dan barat Sumatera, perairan utara NAD, Laut Jawa bagian barat dan tengah, Laut Bali, Laut Sulawesi yang menyebabkan banyaknya suplai uap air dari Samudera Hindia. Selain itu, perlambatan kecepatan angin (shear) di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat juga berperan dalam pertumbuhan awan konvektif yang kuat di wilayah tersebut,” papar Mulyono.

Selanjutnya, tambah dia, untuk mengantisipasi hal tersebut, BMKG terus memberikan baik informasi cuaca yang berjadwal (prakiraan) mau yang seketika (peringatan dini) di seluruh Indonesia.(helmi)