Angkasa Pura 2

Sejarah Baru Indonesia, Kemenhub Operasikan Trayek Tol Laut

DermagaJumat, 8 Mei 2015
DSC_0146-620x310

JAKARTA (beritatrans.com) – Kementerian Perhubungan mulai merealisasikan program tol laut, yang ditandai dengan peluncuran trayek kapal liner dari Pelabuhan Panjang, Lampung, ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Sejarah baru dalam sistem logistik nasional resmi dimulai di Indonesia.

“Sukses untuk Kementerian Perhubungan, terutama Ditjen Perhubungan Laut, karena membuat sejarah baru dalam merealisasikan agenda Pemerintahan Jokowi – JK membangun tol laut. Tanpa banyak bicara, dalam awal – awal pemerintahan baru, mereka langsung membuktikan menjadi pelopor tol laut,” cetus pakar hukum maritim DR Chandra Motik kepada beritatrans.com, Jumat (8/5/2015).

Dengan kerja keras kementerian tersebut, Chandra Motik menegaskan trayek kapal barang liner rute Panjang ke Tanjung Perak resmi diluncurkan. “Ini prestasi luar biasa. Aksi ini menjadi bukti nyata usaha pemerintah memproses efisiensi arus logistik,” tutur Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) tersebut.

Karena multimanfaat, dia menegaskan rute – rute mesti diperluas. “Saya meyakini Kementerian Perhubungan mampu melakukannya. Hanya saja mesti mendapat dukungan dari sektor lain, termasuk Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan,” jelasnya.

Dukungan itu penting, Chandra Motik mengutarakan karena trayek tol laut hanya bisa dibangun bila market tersedia dan kawasan industri di pelabuhan dalam jaringan tol laut terus tumbuh.

Secara terpisah, Dirjen Perhubungan Laut Capt. Bobby R Mmamahit mengungkapkan KMP Mutiara II yang mengangkut 60 truk berikut muatannya dilepas oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kemarin merupakan kapal pertama yang diluncurkan untuk melayani angkutan barang secara berjadwal.

“Untuk memperlancar arus barang, rute palayaran jarak pendek sebagai representasi tol laut harus diperbanyak. Untuk tahap awal baru satu kapal dan akan terus ditambah menjadi 4 kapal,” jelas Bobby.

Ke depan, ada beberapa rute pelayaran lagi yang perlu digarap. “Rute ke kawasan Indonesia timur (KTI) perlu diperbanyak, sehingga distribusi barang dan jasa makin cepat. Biaya juga bisa ditekan semaksimal mungkin,” papar mantan Administrator Pelabuhan Sorong dan Tanjung Priok itu.

Mantan Kepala BPSDM Perhubungan itu mengemukakan kapal tersebut akan menempuh pelayaran dengan menyeberangi Selat Sunda, dilanjutkan menyusuri pantai utara Jawa menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Sesuai rencana, pelayaran ditempuh selama 40 jam atau kurang dari dua hari,”

Waktu tempah kapal itu masih lebih cepat dibandingkan perjalanan melalui darat untuk saat ini membutuhkan waktu sampai 4 hari atau hampir 100 jam. “Tapi, mengalihkan angkutan dari jalan raya ke angkutan laut sudah lebih murah, cepat dan lancar,” sebut dia.

Selain itu, pengalihan truk dari jalan darat ke laut akan mengurangi kemacetan di jalan, mulai dari Bandar Lampung, Bakauheni sampai sepanjang jalur pantai utara Jawa (pantura).

“Kerusakan jalan raya akibat kelebihan muatan truk berkurang. Implikasinya, tingkat kerusakan jalan akan menjadi berkurang,” ujarnya seraya mengakui masih lebih banyak nilai tambah lain yang bakal diperoleh.

Secara ekonomi khususnya pengeluaran negara juga jauh berkurang. Paling tidak dana untuk perbaikan dan perawatan jalan raya menjadi berkurang.

Data menyebutkan, biaya perawatan jalan raya di Pantura Jawa lebih dari Rp800 miliar per tahun. Itu baru dana yang dibutuhkan dengan skenario normal.

“Jika terjadi kerusakan parah, apalagi sampai jembatan putus, akan lebih besar lagi. Tentu kebutuhan dananya akan membengkak. Padahal, jalan pantura Jawa adalah jalan nasional yang menjadi beban dan tanggung jawab APBN,” tegas Bobby. (helmi)