Angkasa Pura 2

Kapal Kargo Turki Dihujani Bom

DermagaSenin, 11 Mei 2015
tmp_7727-2015-05-11 19.58.421269023978

ISTANBUL (beritatrans.com) – Pemerintah Turki, Senin (11/5/2015), mengecam keras serangan bom terhadap kapal kargo Turki yang sedang berlayar di pantai Libya dan mendekati pelabuhan Tobruk dihujani bom dari udara ketika mencoba meninggalkan daerah tersebut, pada hari Minggu (10/5).

Berdasarkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki, tiga petugas kantor di Pulau Cook yang menyewa kapal Tuna 1 meninggal dan beberapa anggota awak lainnya terluka akibat serangan tersebut.

“Kami mengecam keras serangan hina ini yang menargetkan kapal sipil di perairan internasional dan para pelakunya,” bunyi pernyataan dari Kemenlu Turki, dikutip dari Reuters, Senin (11/5).

Sementara itu, pemerintah Libya menjelaskan kapal Turki yang berlayar di lepas pantai Libya dibom setelah diperingatkan untuk tidak melanggar larangan mendekati kota timur Derna.

“Kapal itu berlayar sekitar 10 mil dari pantai Derna. Kami telah memperingatkan sebelumnya tentang larangan mendekati pelabuhan Derna,” kata Mohamed Hejazi, juru bicara pasukan pemerintah Libya yang diakui secara internasional, seperti yang dilansir oleh Reuters, Senin (11/5).

“Seorang anggota kru tewas, dan ada satu terluka,” kata Hejazi.

Sumber militer mengungkapkan kapal tersebut terbakar dan sekarang sedang ditarik ke terminal Tobruk.

Kapal kargo yang dimiliki oleh perusahaan Turki itu membawa eternit dari Spanyol ke Tobruk ketika dihujani tembakan dari udara 21 km dari pelabuhan, mengakibatkan beberapa kerusakan.

Ini bukan kali pertama pemerintah Libya menyerang sebuah kapal. Januari lalu, kapal tanker minyak yang dioperasikan Yunani dan tengah berlabuh di pantai Mediterania Libya, dibom, mengakibatkan dua kru tewas.

Libya, yang berlokasi di Afrika utara, tengah menghadapi konflik antara dua faksi yang bersaing, yaitu satu faksi yang bersekutu dengan pemerintah dan diakui secara internasional, dan faksi lainnya menyebut diri sebagai pasukan Libya Dawn.

Kedua faksi mengklaim mereka adalah penyelamat Libya. Namun dalam kekacauan pasca-revolusi, sejumlah kelompok bersenjata, pemberontak dan militan Islam lain juga berebut kekuasaan atas beberapa wilayah negara ini.

Musim panas lalu, pasukan Libya Dawn berhasil mengambil alih ibukota Tripoli dan mendirikan pemerintahan sendiri. Sementara, pemerintah yang diakui oleh dunia internasional berbasis di timur kota Bayda setelah terusir dari Tripoli.

Perdana Menteri yang diakui secara internasional, Abdullah al-Thinni, mengungkapkan pemerintahnya akan berhenti berhubungan bisnis dengan Turki, karena menilai negara itu memasok senjata kepada kelompok rivalnya, Libya Dawn di Tripoli, mengakibatkan “warga Libya saling membunuh”. (aisha).