Angkasa Pura 2

Kampung Mbah Marijan Menjadi Produsen Kopi Nasional

DestinasiSunday, 17 May 2015

SLEMAN (beritatrans.com) -Desa Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pascatersapu awan panas erupsi 2010 kini menjadi pusat produksi kopi dunia. Produksi kopi dari kampung Halaman Mbah Marijan itu bukan hanya dikenal di pasar lokal bahkan sampai terkenal di mancanegara.

Kini, membuat permintaan dari berbagai daerah kembali meningkat tajam. “Pengepul-pengepul biji kopi yang dulu telah mengetahui kualitas kopi Merapi ini, sekarang kembali lagi sehingga kami cukup kewalahan memenuhi pesananan dari berbagai daerah,” kata Sumijo (40) petani kopi asal Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (16/5/2015).

Kini bertambaha lagi, predikat untuk kampung halaman Mbah Marijan itu. Selain menjadi destinasi wisata serta base camp menuju pendakian Gunung Merapai dari arah selatan, kampung Kepuhharjo juga dikenal sebagai penghasil kopi dengan kualitas bagus. Orang datang ke Kepuharjo bukan hanya bisa melihat masjid dan bekas rumah Mbah Marijan. Tapi juga bisa menikmati lezatnya kopi asli dari lereng Gunung Merapi tersebut.

Menurut dia, karena semakin banyaknya permintaan dari berbagai daerah, pihaknya hanya mampu melayani satu ton saja per tahun. “Pembeli luar daerah yang biasa ada dari Jakarta. Selama ini hanya sebatas dalam Yogyakarta saja. Seperti di warung-warung kopi dan kafe. Tapi akhir-akhir ini sudah ada permintaan dari luar daerah juga, Jakarta yang paling banyak,” kata Samijo.

Ia mengatakan, untuk permintaan tersebut, biasanya diambilkan ke beberapa petani kopi di luar wilayah Petung seperti di kebun kopi lereng Merapi Turgo, Purwobinangan, Pakem.

“Di Glagaharjo (Cangkringan) dan di Deles (Klaten). Di sana kan tanaman kopi tidak terkena awan panas saat erupsi (2010),” katanya.

Sumijo mengatakan, meski demikian pihaknya masih kewalahan atas permintaan dari luar daerah tersebut. Karena banyaknya yang ingin merasakan kopi asli dari lereng Merapi.

“Permintaannya banyak, hanya saja sementara bisa terlayani baru sekitar satu ton saja per tahun,” katanya.

Ia mengatakan, diharapkan panenan pertama pada tanaman baru pascaerupsi tersebut, nantinya mampu untuk menambah stok biji kopi.

“Dengan meningkatnya kembali penjualan kopi ke luar daerah, maka Petung akan kembali dikenal sebagai penghasil biji kopi. Setelah sempat tumbang, akibat bencana alam pada 2010.

Panenan tanaman baru ini, kata dia, diprediksi bisa dilakukan pada Juni. “Ada sekitar 50 hektare luasan lahan yang ditanami kopi pada 2012, tersebar di lima dusun. Yaitu, Petung, Kopeng, Pagerjurang, Tegal Manggong, serta Kepuh, di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan,” tegas dia.(hel/ant)