Angkasa Pura 2

Indonesia Butuh 14.000 Pelaut Profesional Tahun Ini

SDMSenin, 18 Mei 2015
Tommy wisuda pelaut

JAKARTA (beritatrans.com) -Indonesia membutuhkan 14.000 orang tenaga pelaut profesional untuk berlayar di kapal berbendera Indonesia. Jumlah itu menurut laporan dari Indonesia National Shipowners Association (INSA). Tahun ini Indonesia membutuhkan 14.000 tenaga pelaut.

“Laporan dari INSA saja, kapal berbendera Indonesia saja tahun ini dibutuhkan 14.000 tenaga pelaut. Mulai dari nahkoda mualim sampai ke level deck,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan Kementerian Perhubungan Wahyu Satryo UtomonSH,M.Si di Jakarta, kemarin.

Tomi, panggilan akrab Utomo menuturkan, kebutuhan yang sangat banyak tersebut belum mampu dipenuhi, oleh sekolah-sekolah atau politeknik pelayaran di Indonesia di bidang pelayaran, yang mencetak pelaut.

“Setiap tahun, sekolah pelayaran di Indonesia yang berjumlah sekitar 10 sekolah hanya mampu mencetak pelaut sekitar 3.000 orang,” kata Tommy seperti dikutip detik.

“Sekolah kita belum mampu memenuhi semua kebutuhan itu. Sekolah kita bisa meluluskan setiap tahunnya ada 3.000 orang, itu dari sekolah tinggi, politeknik pelayaran, balai totalnya sekitar 3.000. Plus sekolah swasta‎ ada 300 sekolah, tapi yang memenuhi persyaratan hanya sekitar 25 sampai 30,” paparnya.

Alhasil, bukan tidak mungkin kapal-kapal di Indonesia nantinya bisa diisi oleh para pelaut dari luar negeri, alias impor. Apalagi, butuh banyak pelaut untuk mendukung tol laut yang bakal membutuhkan banyak kapal-kapal baru.

“Mungkin impor, tapi saya nggak ada angkanya. Atau mungkin juga dikurangi krunya. Dalam satu kapal ada nahkoda satu, tapi itu tergantung besar kapalnya,” ‎jelasnya.

Tomi juga menuturkan, untuk mencetak lebih banyak lagi para pelaut mencakup nahkoda, mualim, petugas deck dan lainnya, pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah untuk membangun sekolah pelayaran dan balai diklat atau politeknik pelayaran.

“Kita buka asrama lagi. Pemda juga didorong membangun sekolah pelaut, jangan terus pemerintah. Bukan tidak mungkin bawa dari luar. Kadang dari Filipina, Thailand,”‎ tutupnya.(hel/awe)

loading...