Angkasa Pura 2

Habibie Sudah Ciptakan “Pesawat Terbang” Di Usia 19 Tahun

Figur KokpitMinggu, 24 Mei 2015
Habibie dan pesawat

JAKARTA (beritatrans.com) – Prof.Dr.Ing.BJ.Habibie, pakar pesawat terbang
dan mantan Presiden RI memang jago soal pesawat terbang. Kepakaran dan
kepiawaianya di bidang rancang bangun pesawat terbang bukan hanya diakui
di Indonesia, tapi juga dunia international.

Sebelum dipanggil pulang ke Indonesia, salah satu putra kebanggaan
Indonesia yang pernah berjaya di German itu mengakui, dirinya sudah mulai
meranang dan menciptakan pesawat di usainya yang ke-19 tahun.

Dalam pertemuan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta,
Minggu (24/5/2015) yang merupakan wadah bagi ilmuwan Indonesia, salah
seorang profesor bertanya soal drone‎ yang berhasil diciptakan oleh
mahasiswa ITB kepada pendiri AIPI, BJ Habibie.

Drone ciptaan mahasiswa itu dapat diterbangkan dari darat, laut maupun
sungai‎ dengan daya jelajah hingga 100 Km untuk mengamankan wilayah
Indonesia terutama perbatasan. Apa tanggapan Habibie?

Menjawab hal tersebut, Habibie meminta seorang stafnya menunjukkan
sebuah foto dirinya berukuran sedang‎ saat masih muda tengah memegang
drone. Foto itu bertuliskan pada bagian atasnya nama ‘Rudy’.

“Ini saya usia 19 tahun di Jerman. Saya buat pesawat terbang remote control
itu yang saya pegang. Kalau jatuh ya jatuh, tapi bapak harus tahu, kalau saya bisa buat itu pada waktu itu hanya main. Sekarang makro elektrik bisa
melayang, kita bisa rekayasa tapi tidak bisa angkut manusia,” kata Habibie.

Hal itu disampaikan di hadapan pengurus dan anggota AI‎PI sekitar 50 orang di
perpustakaan Habibie-Ainun kediamannya di Jalan Patra Kuningan 13, Jaksel. Hadir ketua AIPI Prof Sangkot Marzuki, Prof Emil Salim dan lainnya.

Habibie lalu menjelaskan maksud yang ingin disampaikannya. Bahwa saat ini
industri pesawat yang dibutuhkan adalah pesawat yang mampu mengangkut
manusia. Data di Indonesia pertumbuhan jumlah penumpang dalam 10 tahun
terakhir rata-rata 19,6 persen tiap tahun.

“Pak, bagus kalau mereka buat (drone). That’s oke, cuma saya perlihatkan
saat umur 18 tahun belum dapat S1 kontruksi pesawat terbang, ‎ belum ada
elektronik. Sekarang orang pakai teknologi remote, tapi tidak bisa angkut
orang,” ujar mantan Presiden RI itu.

“Kita bisa jadikan itu untuk memantau perkembangan, it’s oke. Tapi yang kita
butuhkan bagaimana pertumbuhan 19,6 persen tiap tahun tadi. Penuhi dari
mana? Import. How? Tell me,” lanjutnya.

Habibie mengatakan, peningkatan jumlah penumpang pesawat berkaitan dengan GDP (Gross Domestic Product). Sebagai negara kepulauan, menghadirkan pesawat yang dapat diproduksi sendiri adalah keharusan. Tapi dia optimis Indonesia bisa mengembangkan pesawat terbang yang pernah dibuktikannya itu.

“Untuk bisa buat pesawat terbang, high complex. Waktu itu saya belum S1,
tapi sudah bisa menghitung (kebutuhan pesawat terbang dalam negeri). Jadi
saya bersyukur anak-anak muda antusias,” tandas Habibie.(zal/dtc)