Angkasa Pura 2

Menteri Agraria & Tata Ruang: Tak Masalah Lokasi Bandara Di Kulonprogo

BandaraMinggu, 31 Mei 2015
Bandara-Kulonprogo-Yogyakarta

KULONPROGO (beritatrans.com) – Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan menilai tidak ada masalah dalam pemilihan lokasi pembangunan Bandara Internasional di Kulonprogo.

“Dari segi tata ruang [lokasi pembangunan bandara di Kulonprogo] tidak ada masalah. Sudah selesai jauh-jauh hari,” kata Ferry saat ditemui wartawan seusai Rakernas Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Agraria di Hotel Ambarukmo Plaza, kemarin.

Meski pembangunan bandara sudah sesuai prosedur, Ferry mengakui fakta di lapangan masih ada warga yang terdampak pembangunan bandara menolak. Ia menyatakan, pembebasan lahan calon bandara tetap mendasarkan pada Undang-undang Nomor 2/2012 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum.

“Bandara punya kemanfaatan yang lebih besar, tapi kita tidak mengabaikan [warga yang menolak bandara],” ujar Menteri Agraria.

SEGERA TUNTAS
Sebelumnya, Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Tommy Soetomo, berharap proses pembebasan lahan Bandara Kulonprogo, Yogyakarta, dapat segera dituntaskan.

Cepatnya pembebasan lahan, dia mengemukakan mendorong PT Angkasa Pura I segera memulai pembangunan fisik. “Kami inginnya serba cepat. Dananya sudah siap,” cetus Tommy kepada beritatrans.com, Jumat (29/5/2015).

Namun sejauh ini, dia mengakui proses pembebasan lahan memang masih harus melalui beberapa tahapan lagi. Saat ini baru memasuki tahap memberi peluang kepada publik untuk memberikan sanggahan.

“Memberi kesempatan kepada pihak terdampak yang bersikukuh menolak atau keberatan akan pembangunan bandara tersebut. Setelah semua ‘clear’ baru disampaikan dokumen dan IPL Gubernur DIY tersebut kepada BPN DIY. Setelah tahapan ini dilalui, Badan Pertanahan Nasional mengukur detil lahan yang akan dibebaskan,” tuturnya.

Usai pengukuran, mantan Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II itu mengemukakan berlanjut kepada tahapan negosiasi dan penetapan harga. Lalu.pembayaran kepada pemilik lahan.

Terkait penunjukan tim penaksir nilai tanah independen (appraisal), dia mengutarakan belum dilakukan sampai saat ini karena harus melalui proses tender nantinya. Sehingga harga tanah belum bisa ditentukan selama tim appraisal belum diseleksi nantinya.

Setelah sosialisasi hingga konsultasi publik selesai tanpa ada kendala, baru pihaknya akan masuk ke pembebasan tanah yang ditargetkan bisa selesai dalam setahun. Dana yang disiapkan untuk pembebasan lahan kurang lebih Rp 900 miliar.

Dengan demikian, masih sangat lama waktu untuk sampai kepada tahap pekerjaan konstruksi.

Karena fakta itu, Tommy Soetomo tidak berani memastikan kapan pembangunan bandara bisa dimulai. “Amat tergantung kepada finalisasi proses pembebasan lahan,” cetusnya.

UNTUK RAKYAT
Tommy menegaskan pembangunan bandara
Baru berkapasitas 10 juta penumpang itu merupakan bagian dari pengabdian PT Angkasa Pura I kepada bangsa dan rakyat, termasuk warga Yogyakarta.

“Kami membangun bandara tidak semata-mata kepentingan PT Angkasa Pura I. Kepentingan yang lebih besar adalah kepentingan bangsa dan negara, termasuk kepentingan warga Yogya. Dengan adanya bandara yang lebih besar maka akan semakin memacu kesejahteraan dan kemakmuran warga Yogya,” ujarnya.

Dia mengemukakan tersebut akan menjadi bandara pertama yang di bangun tanpa menggunakan dana pemerintah (APBN) melainkan anggaran korporasi dan mitra strategis yang disiapkan sekitar Rp 7 triliun.

Anggaran yang disiapkan kurang lebih Rp 7 triliun yang nantinya bisa ditambah dengan dana dari mitra-mitra strategis untuk membangun bandara yang diperkirakan memakan waktu pembangunan selama tiga tahun tersebut.

“Pembangunan bandara baru di DIY tersebut sangat mendesak dan tidak bisa ditunda mengingat jumlah penumpang di Bandara Adisutjipto sudah mencapai 5 juta per tahun atau ‘overload’ dari yang seharusnya 1,2 juta per tahun. Nantinya Bandara Adisutjipto akan digunakan untuk penerbangan VIP dan militer, sedangkan penerbangan komersial sepenuhnya ada di Bandara Intermasional Kulonprogo,” cetusnya.

MARET 2019 OPERASI
Sebelumnya, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo menargetkan Maret 2019 pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulonprogo rampung.

“Target pahitnya pada Maret 2019 pesawat sudah mendarat di Bandara di Kabupaten Kulonprogo,” kata Hasto pada wartawan usai menerima Laporan Hasil Keuangan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2014 di Gedung Pertemuan Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan DIY, Kamis (28/5).

Sekarang tahap pembangunan bandara di Kulon Progo memasuki proses akuisisi lahan. Di samping itu, juga proses gugatan di PTUN terhadap IPL (Ijin Penetapan Lokasi) yang dilakukan oleh warga Kulon Progo yang mengatasnamakan Wahana Tri Tunggal. Gugatan tersebut selesainya ditargetkan tidak lebih enam bulan sejak pertengahan Mei 2015.

Hasto yang juga Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi ini mengharapkan pembangunan bandara sesuai target. Kalau mundur maksimal enam bulan. Sedangkan IPL berlaku sampai Maret 2018.

Berkaitan dengan gugatan di PTUN, dia menuturkan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo membantu menyiapkan materi untuk jawaban terhadap sanggahan. “Gubernur (red. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X) sudah meminta tim lokal Kulon Progo menyusun materi jawaban,” ujarnya.

Pengukuran lahan untuk bandara sudah lama dilakukan dan tinggal nanti kalau sudah selesai PTUN akan dilanjutkan dengan appraisal independen. Hasto mengakui sudah bertemu dengan Komnas HAM berkaitan dengan adanya laporan dari sebagian warga Kulon Progo yang tidak setuju pembangunan bandara karena ada pelanggaran HAM terutama karena tidak adanya keterbukaan informasi.

‘’Komnas HAM bertemu saya untuk memberikan saran dan masukan supaya memberikan informasi dan menyampaikan aspirasi kepada masyarakat berkaitan dengan pembangunan bandara. Semua tahapan itu sudah kami lalui. Kami sudah bekerjasama dengan PT Angkasa Pura yakni dengan sekolah kedirgantaraan agar anak-anak di Kulon Progo ada yang sekolah di sana. Supaya dengan adanya pembangunan bandara masyarakat tidak hanya menjadi penonton,” kata Hasto. (korrie/awe).

loading...