Angkasa Pura 2

Daeng: Mengapa Saat SPBU Asing Naikkan Harga Pertamax Faisal Basri Diam

Another NewsRabu, 3 Juni 2015
Salamudin_daeng__AEPI

JAKARTA (beritatrans.com) –Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di SPBU asing di Indonesia sudah naik ke kisaran Rp9.450 per liter untuk produk setera Pertamax. Sementara, harga Pertamax di SPBU Pertamina hanya dijual Rp9.300 per liter. Itupun saat akan menaikkan harga sudah memicu pro dan kontra di masyarakat.

“Anehnya, saat SPBU asing menaikkan harga Pertamax dan tidak ada sosiaslisasi sebelumnya semua diam. Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM) Faisal Basri juga tak bersuara. Sementara, saat Pertamina berencana menaikkan Pertamax, dia (Faisal) berbicara paling keras,” kata Direktur Assosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng di Jakarta, Rabu (3/6/2015).

Menurut Daeng, jika Faisal kerja tulus dan ikhlas untuk rakyat, seharusnya teriak dong saat SPBU asing menaikkan harga Pertamax tanpa sosialisasi. Selain itu, apa benar mereka (SPBU asing) menjual BBM lebih murah dibandingkan SPBU Pertamina? Coba cek dan memberikan komentar yang jelas dan menyejukkan, bukan sekedar membuat gaduh,” papar Daeng.

Kerja Tim Faisal itu seharusnya memberikan solusi yang baik untuk meningkatkan produksi migas nasional bukan hanya memotong subsidi BBM seperti yang dilakukan selama ini. “Kalau cuma meminta potong subsidi dan membubarkan Petral tanpa bisa menangkap “mafia migas” yang dituding selama ini sama saja boong,” tandas Daeng.

Pendapat serupa disampaikan pengamat energy Sofyano Zakaria. “Faisal Basri harus turun tangan dan memberikan kritik yang adil saat SPBU asing menaikkan harga BBM nonsubsidi seperti saat ini. Jangan hanya diam seolah lempar batu sebunyi tangan,” kata dia.

Oleh karena itu, Sofyano meminta Pemerintahan Jokowi-JK jangan hanya mengambil masukan dan rekomendasi dari Tim Faisal Basri sebelum mengambil kebijakan soal migas nasioal. “Jokowi harus mencari dan meminta masukan yang konprehensif sebelum mengambil kebijakan tentang migas nasional. Jangan serta merta mengikuti rekoemndasi Faisal Basri karena ada indikasi tim itu tidak independen dan memihak pada oknum tertentu,” tandas Sofyano.(helmi).