Angkasa Pura 2

Kapal Eastern Star Angkut 456 Penumpang Terbalik, Belasan Orang Tewas

DermagaRabu, 3 Juni 2015
tmp_9743-150602070039-restricted-china-ship-0602-super-169-653949876

SHANGHAI (berutatrans.com) – Hingga Rabu ini, nasib ratusan penumpang kapal tur Eastern Star masih belum jelas. Ketidakpastian diperumit dibatasinya informasi oleh pemerintah, yang dengan segera menimbulkan kemarahan keluarga penumpang. Mereka, yang menuntut jawaban atas nasib keluarganya.

Kapten serta kepala mesin kapal merupakan dua dari 14 penyintas kala kapal karam pada Senin malam. Keduanya telah dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, menurut laporan kantor berita Xinhua News Agency. Dari penyelidikan awal, diketahui bahwa kapal tak kelebihan penumpang dan memiliki baju pelampung memadai.

Hingga Rabu, petugas melaporkan sebanyak 18 orang meninggal.

Kapal Eastern Star mengangkut 456 orang kala tenggelam pada pukul 9.28 malam waktu setempat. Kapal tenggelam di tengah-tengah Sungai Yangtze. Menurut beberapa petugas kantor cuaca, suatu tornado menerjang daerah itu kala kapal akhirnya tenggelam.

Kini, mulai meretas pertanyaan apakah awak sempat diperingatkan soal badai, serta apa yang terjadi pada beberapa jam sesudah tornado menerjang.

Xinhua melaporkan sempat berbicara dengan seorang penyintas. Zhang Hui, namanya, merupakan karyawan Shanghai Xiehe International Travel Agency.

Ia mengaku terombang-ambing mengikuti arus sungai selama 10 jam, sebelum berhasil mencapai tepian. Seperti dikutip Xinhua, Zhang mengingat angin, hujan, badai dan petir tiba-tiba menyalak selepas pukul 9 malam pada hari insiden.

“Hujan menerjang bagian kanan kapal. Banyak kabin terendam air. Air tetap masuk, meski jendela-jendela sudah ditutup,” papar Zhang seperti disitir Xinhua.

Waktu menunjukkan pukul 9.20 malam, kala beberapa penumpang mulai mengangkut selimut basah ke aula utama kapal. Zhang sendiri menuju kamarnya saat kapal miring hingga 45 derajat dan secepat mungkin terbalik. Ia dan seorang kolega lalu mengambil baju pelampung, menyelinap lewat jendela kabin seraya menyadari: air sudah setinggi leher mereka.

Sejak Selasa, keluarga penumpang memprotes minimnya informasi dari pemerintah maupun operator tur.

Ji Fumin, 59 tahun, menanti jawaban dari kantor pemerintah di Shanghai. Istrinya, Cai Yadi yang berusia 59 tahun, barangkali turut menumpang kapal. Tapi ia belum bisa memastikannya. “Saya rasa tidak sulit bagi pemerintah untuk membagi informasi mengenai segenap penumpang.”

Sejumlah besar penumpang berasal dari Provinsi Jiangsu, sebelah timur Cina serta Kota Shanghai. Kapal juga mengangkut serombongan warga lanjut usia yang mengikuti paket tur. Beberapa di antara mereka berusia sekitar 80-an. (ani)?