Angkasa Pura 2

Pakar: Nasib Perekonomian Pantura Pasca Beroperasinya Tol Cipali

KoridorKamis, 18 Juni 2015
rest-area-42 di Tol

JAKARTA (beritatrans.com) -Selesainya pembangunan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) akan memiliki dampak yang tak sedikit terhadap perekonomian di jalur Pantai Utara (Pantura), terutama di Jawa Barat. Tapi bukan berrati tanpa resiko, karena banyak lapangan usaha di Jalur Pantura yang nota bene ada ribuan oran menggantungkan hidupnya disana harus di perhatika

Magnet tol terpanjang di Indonesia itu bisa membuat beralihnya pengguna jalan Pantura. Akibatnya, masyarakat dan pengusaha yang menggantungkan diri pada jalur Pantura kehilangan pendapatan.

“Penurunan ekonomi akan terjadi di Pantura. Misalnya pengusaha SPBU, rumah makan, makanya Pak Jokowi sudah bilang pengusaha Pantura dipindahkan ke rest area (Tol Cipali), tapi harus diawasi. Saya khawatir malah pengusaha baru (yang menguasai rest area Cipali),” ujar pakar transportasi Unika Soegijopranoto Ir.Djoko Setijowarno, MT di Jakarta, Rabu (17/6/2015).

Djoko mengaku tak percaya jika para pengusaha usaha kecil menengah (UKM) tak berminat menjajakan produknya di rest area Tol Cipali. Menurut dia, butuh peran Pemerintah Daerah untuk mendorong para UKM di sekitar jalur Pantura itu mengembangkan usahanya di rest area tol sepanjang 116,7 km itu.

“Kasian kalau diserahkan ke mereka. Para kepala daerah yang wilayahnya dilewati Tol Cipali itu harus melindungi para UKM. Bisa diberi insentif, bisa juga Pemda-nya yang bayar sewa tempat untuk pelaku UKM,” kata Djoko seperti dikutip kompas.com.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengungkapkan, Tol Cipali jelas akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah yang dilaluinya. Namun kata dia, efek tersebut tak akan besar karena perencanaan pembangunan Tol Cipali tak melihat potensi daerah yang dilaluinya.

“Pertumbuhan pasti meningkat, ada warung, ada HOTEL. Tapi kan yang perlu diperhatikan kita bikin Tol Lintas Jawa itu dari tahun 1980-an, harus direvisi. Ini menyambungkan dua titik dan setiap daerah yang dilalui punya potensi baru dibikin jalan. Ini tidak begitu. Lihat exit tol yang ada, ada apa di situ? Apakah ada kawasan Industri kah? Kawasan perumahan kah? Pariwisata kah? Ini malah dibuat dulu aja jalannya. Kebalik ini pemikirannya,” kata Agus.

Dia mencontohkan bagaimana Belanda membangun jalur kereta api di Indonesia dengan melihat potensi daerah. “Lihat Belanda bagaimana bangun rel itu melihat titik-titik itu ada perkebunan sehingga ada barang angkut. Kalau sekarang tidak begitu, buat saja jalan yang penting enggak macet,” tegas Djoko.(zal/komp)